JAKARTA, Cobisnis.com – Dalam lukisan-lukisan mewah bernuansa modern, seniman Spanyol Nieves González menghadirkan pembaruan berani atas tradisi potret abad ke-17. Para perempuan dalam karyanya mengenakan jaket puffer berkerah tinggi dan jersey olahraga yang mengembang, dengan kain-kain dilukis kaya warna seperti kuning asam dan merah muda permen karet. Disinari cahaya dingin di atas latar gelap, sosok-sosok itu tampak bercahaya sambil menatap penonton dengan sikap aristokrat yang dingin.
Selama beberapa tahun terakhir, González mengambil latar bumi, pencahayaan dramatis, dan kain mewah khas periode Barok Spanyol, lalu menariknya ke masa depan. Subjek perempuan imajinernya memiliki gestur bangsawan ambisius atau santa yang khusyuk, tetapi busana mereka sepenuhnya kontemporer.
Karya-karya tersebut juga sarat sentuhan absurditas: ada yang memegang pelampung kolam renang atau perlengkapan olahraga; ada pula yang rambutnya menjuntai hingga ke tanah. Simbol dari lukisan mitologis dan religius hadir sebagai tambahan jenaka angsa (rujukan pada Zeus) menjadi hewan pangkuan, atau ular Alkitab menjelma pelampung kolam.
Kegembiraan memodernkan masa lalu ini mengingatkan pada perpaduan tak terduga seperti Paus mengenakan jubah dengan topi baseball namun penghormatan González pada medium lukis terlihat jelas lewat penggarapan tekstur dan cahaya yang halus dan romantis. Melukis sejak kecil, praktik seninya berangkat dari ketertarikan mendalam pada seni Barok serta pendidikan klasiknya di Universitas Sevilla. “Saya sangat tertarik pada kekuatan dan intensitas yang terkandung dalam figur postur dan busananya,” tulisnya melalui email.
Meski telah disebut sebagai bintang seni yang tengah naik daun, karya González menembus arus utama saat ia melukis potret Lily Allen untuk sampul album pengakuan diri sang musisi, West End Girl. Setelah karya itu viral, publikasi seni dan mode berebut mewawancarainya; bahkan Jimmy Fallon menghadiahkan versi nyata jaket puffer yang dilukis González. “Itu sangat mengejutkan,” katanya, seraya mengakui lonjakan perhatian yang tak terduga.
Sebelum itu pun, karyanya sudah mencuri perhatian. Pameran “Sacred Hair” dibuka di Galeri T293 Roma, sementara Galeri Richard Heller dari Santa Monica memajang dua lukisannya di Untitled Art Fair Miami Beach. Berikutnya, González akan menggelar pameran tunggal di SC Gallery Bilbao pada Februari dan di Richard Heller pada Juni.
Menurut Heller, González “menangkap zeitgeist tertentu” dengan menyuntikkan kehidupan baru ke genre potret klasik. Meski memodernkan kode busana lukisan klasik, González menekankan hubungan lama antara seni dan mode. Ia tidak mengejar tren, melainkan potensi visual sebuah busana untuk membentuk figur yang “sangat skulptural” mulai dari mantel quilted hingga kaus atletik.
Di studio bersama, González bekerja disiplin, melukis dari foto dan dikelilingi buku-buku seniman favorit. Belakangan ia merenungkan kekuatan psikologis Portrait of Innocent X karya Diego Velázquez (1650), yang ia kunjungi di Roma sebuah rujukan tentang kehadiran, status, dan kain berkilau yang, baginya, sebanding dengan otoritas jaket puffer masa kini.
Lukisan favoritnya untuk direnungi adalah The Virgin of the Caves karya Francisco de Zurbarán di Sevilla. Ia mengagumi cara Zurbarán menangani kain dan kehadiran Maria yang, menurutnya, “menggambarkan feminitas yang bertahan dari segala adversitas sejarah.” Karya itu, katanya, selalu ia datangi kembali hampir seperti sebuah ritual.













