JAKARTA, Cobisnis.com – Lebih dari 70.000 warga Selandia Baru meninggalkan negara itu dalam 12 bulan terakhir. Jumlah ini setara hampir 1,4 persen dari total penduduk sekitar 5,1 juta orang, menandai arus keluar terbesar beberapa dekade terakhir.
Mayoritas warga memilih tujuan yang dekat, yaitu Australia. Fenomena ini memang bukan hal baru, tetapi intensitas dan konteksnya kini berbeda, melibatkan semakin banyak pekerja berpengalaman yang tidak berniat kembali.
Selama beberapa dekade, Selandia Baru mencatat arus keluar yang moderat, biasanya diimbangi kedatangan imigran. Namun dalam dua tahun terakhir, peningkatan jumlah warga yang pergi tajam, bertepatan dengan pasar tenaga kerja yang lemah dan ekonomi yang stagnan.
Pertumbuhan PDB Selandia Baru diperkirakan hanya sekitar 1 persen pada 2025, disertai pengurangan jumlah pekerjaan di sektor publik dan upah yang tumbuh lebih lambat daripada harga kebutuhan pokok dan perumahan.
Perbandingan dengan Australia, yang menawarkan upah lebih tinggi, lebih banyak peluang kerja, dan pertumbuhan ekonomi lebih stabil, membuat negara tetangga ini menjadi tujuan utama migrasi. Sekitar 60 persen warga Selandia Baru yang pergi kini tinggal di Australia.
Faktor sosial juga menjadi daya tarik. Banyak warga memiliki koneksi keluarga atau teman di Australia, sementara sekitar 100.000 orang lahir di Australia tetapi memiliki kewarganegaraan Selandia Baru. Hal ini memudahkan proses adaptasi bagi pendatang baru.
Sektor kesehatan menjadi magnet utama, dengan gaji perawat di Australia mencapai 85.000–90.000 dollar Australia per tahun. Lebih dari 10.000 perawat Selandia Baru mendaftar untuk bekerja di sana pada tahun lalu.
Sektor keamanan juga terdampak. Sebanyak 212 polisi Selandia Baru meninggalkan negara antara Januari 2023 hingga April 2025, menerima tawaran gaji tinggi dan fasilitas tambahan seperti subsidi perumahan.
Selain itu, sektor konstruksi dan pertambangan di Australia menarik tenaga kerja terampil. Ekonomi Australia tumbuh lebih dari 2 persen tahun lalu, sehingga permintaan pekerja tetap tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa migrasi warga Selandia Baru saat ini lebih dari sekadar siklus biasa. Peningkatan eksodus bisa menimbulkan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang bagi negara, termasuk kekurangan tenaga kerja berpengalaman di berbagai sektor.












