JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak mentah dunia mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun, sementara kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah terus menguat, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya bernegosiasi dengan Iran.
Harga minyak Brent, acuan global, pada Jumat (27/3/2026) ditutup di US$ 112,57 per barel, naik 4,2% dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga WTI juga menembus US$ 99,64 per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, harga Brent telah melonjak lebih dari 55%, sementara harga WTI naik 55,3%. Ini menjadi penguatan bulanan terbesar sejak perang Teluk pada 1990.
Trump menyatakan telah memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak, hingga 6 April. Namun pasar masih skeptis terhadap klaim Trump, terutama setelah dua kapal China dipaksa balik saat mencoba melewati selat.
Analis menekankan bahwa meski sebagian pengiriman minyak masih dapat melintas, risiko gangguan pasokan jangka panjang tetap tinggi. Diperkirakan sekitar 17,8 juta barel per hari aliran minyak global terhambat akibat konflik, dengan total kehilangan hampir 500 juta barel sejak perang dimulai.
Trader dan investor tetap fokus pada durasi perang, bukan sekadar pernyataan optimistis Trump. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz atau kerusakan infrastruktur energi dapat mempertahankan premi risiko yang tinggi pada harga minyak.
Produsen minyak Rusia juga memperingatkan potensi force majeure atas pasokan dari pelabuhan utama, menyusul serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi mereka.
Analis Macquarie Group memperkirakan harga minyak bisa turun cepat jika perang segera mereda, tetapi tetap di atas level sebelum konflik. Sebaliknya, harga bisa melonjak hingga US$ 200 per barel jika perang berlanjut hingga akhir Juni.
Kondisi ini menegaskan rapuhnya pasar energi global, di mana setiap gangguan pasokan di Timur Tengah langsung memengaruhi harga dan pasokan energi dunia.
Situasi terbaru menunjukkan bahwa pasar minyak global masih belum percaya pada klaim optimistis Trump, sehingga volatilitas harga diperkirakan akan tetap tinggi hingga tanda-tanda stabilitas di Selat Hormuz terlihat jelas.













