JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung secara terbuka mengakui bahwa China kini telah menyamai, bahkan melampaui negaranya dalam berbagai sektor teknologi, termasuk industri otomotif.
Pernyataan tersebut disampaikan Lee dalam wawancara dengan China Media Group menjelang kunjungan resminya ke China pada 31 Januari 2025, seperti dilaporkan CarNewsChina.
Pengakuan ini menandai perubahan besar dalam peta persaingan industri Asia, khususnya di sektor teknologi tinggi dan otomotif yang selama ini didominasi Korea Selatan dan Jepang.
Lee menegaskan keunggulan China tidak lagi hanya bertumpu pada kapasitas produksi massal. China kini unggul dalam teknologi inti seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan kendaraan listrik.
Menurutnya, pola hubungan industri lama yang bersifat vertikal sudah tidak relevan. Korea Selatan tidak lagi bisa diposisikan sebagai penyedia teknologi, sementara China hanya sebagai basis manufaktur.
China dinilai telah berkembang menjadi inovator mandiri dengan kecepatan riset dan komersialisasi teknologi yang sangat agresif, terutama di sektor kendaraan listrik.
Di industri otomotif, China kini menjadi produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, dengan kekuatan utama pada teknologi baterai, software kendaraan, dan integrasi kecerdasan buatan.
Sementara itu, industri otomotif Korea Selatan masih memiliki keunggulan pada kualitas manufaktur, rekam jejak engineering, serta kekuatan merek global.
Namun, Lee mengakui jarak keunggulan tersebut semakin menyempit, bahkan berbalik arah di sejumlah bidang strategis.
Meski demikian, Presiden Korea Selatan menilai kondisi ini bukan sekadar ancaman, melainkan momentum untuk merumuskan ulang strategi industri nasional.
Pendekatan konfrontatif dinilai tidak efektif, mengingat kuatnya keterkaitan rantai pasok dan pasar antara Korea Selatan dan China.
Pemerintah Korea Selatan mulai membuka peluang kolaborasi teknologi dengan China, khususnya di bidang AI, software-defined vehicle, dan kendaraan listrik generasi berikutnya.
Bagi industri global, pengakuan ini menjadi sinyal bahwa pusat inovasi teknologi kini semakin terdistribusi, dengan China berada di garis depan perubahan.














