JAKARTA, Cobisnis.com – Media Iran mengklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tewas atau mengalami luka parah dalam serangan balasan terbaru di tengah konflik yang memanas antara Iran dan aliansi Israel–Amerika Serikat.
Klaim tersebut pertama kali disampaikan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim. Laporan tersebut menyebut adanya kemungkinan Netanyahu menjadi korban dalam serangan yang terjadi dalam rangkaian perang yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Spekulasi semakin berkembang setelah Netanyahu tidak muncul di hadapan publik selama hampir empat hari. Situasi ini dianggap tidak biasa karena selama konflik berlangsung ia dikenal rutin menyampaikan pernyataan melalui pesan video kepada publik.
Beberapa laporan menyebut semua pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu belakangan ini hanya disampaikan dalam bentuk tertulis. Hingga kini tidak ada rekaman video atau foto terbaru yang menampilkan dirinya secara langsung.
Media Iran menilai perubahan pola komunikasi tersebut sebagai indikasi bahwa sesuatu yang serius mungkin telah terjadi. Namun hingga saat ini belum ada bukti resmi yang dapat mengonfirmasi klaim tersebut.
Situasi semakin memicu perhatian setelah area di sekitar kediaman resmi Perdana Menteri Israel dilaporkan berada dalam pengamanan yang sangat ketat. Langkah keamanan tambahan itu juga belum dijelaskan secara resmi oleh otoritas Israel.
Laporan dari Tasnim bahkan menyebut kemungkinan korban lain dalam insiden tersebut. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir serta saudara Netanyahu, Iddo Netanyahu, juga disebut-sebut menjadi korban dalam serangan yang sama.
Namun klaim tersebut hingga kini belum mendapat konfirmasi dari pemerintah Israel. Tidak ada pernyataan resmi yang membenarkan maupun membantah informasi yang beredar di media Iran tersebut.
Di sisi lain, pembatalan mendadak kunjungan dua utusan Amerika Serikat ke Israel turut menambah spekulasi. Steve Witkoff dan Jared Kushner sebelumnya dijadwalkan melakukan pembicaraan tingkat tinggi terkait konflik yang sedang berlangsung.
Media Israel melaporkan pembatalan kunjungan tersebut tanpa memberikan penjelasan detail. Pemerintah Amerika Serikat maupun Israel juga belum memberikan komentar mengenai alasan perubahan agenda tersebut.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari melalui serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini telah meluas. Ketegangan melibatkan berbagai kelompok di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman.
Perang tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Situasi keamanan regional pun semakin tidak stabil seiring meningkatnya eskalasi konflik.
Hingga saat ini, nasib Netanyahu masih menjadi tanda tanya besar di tengah derasnya spekulasi global. Kejelasan mengenai kondisi pemimpin Israel itu diperkirakan akan sangat memengaruhi dinamika konflik di kawasan.













