JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat mulai mengurangi jumlah personel militernya di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, sebagai langkah pencegahan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penarikan sebagian pasukan ini dilakukan seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan langkah tegas terhadap Iran menyusul penanganan keras pemerintah Teheran terhadap demonstran.
Sejumlah pejabat menyebutkan bahwa langkah tersebut bersifat preventif. Selain personel Amerika, beberapa anggota militer Inggris juga dilaporkan turut ditarik dari pangkalan tersebut. Pemerintah Qatar menyatakan kebijakan ini merupakan respons atas situasi regional yang memanas, sembari menegaskan komitmen untuk menjaga keamanan warga dan melindungi infrastruktur penting serta fasilitas militer.
Sementara itu, pemerintah Inggris menutup sementara kedutaan besarnya di Teheran dan mengalihkan operasional secara jarak jauh. Namun, Kementerian Pertahanan Inggris menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait laporan penarikan personel dengan alasan keamanan operasional.
Pangkalan Al-Udeid merupakan basis militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah, dengan sekitar 10.000 personel AS dan ratusan staf Inggris yang biasanya ditempatkan di lokasi tersebut. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai jumlah pasukan yang ditarik.
Ketegangan meningkat setelah Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan sangat keras jika Iran melanjutkan eksekusi terhadap para demonstran. Meski demikian, Trump mengklaim telah menerima laporan dari sumber terpercaya bahwa pembunuhan di Iran mulai berhenti dan tidak ada rencana eksekusi lanjutan, seraya menegaskan pemerintahannya masih memantau perkembangan situasi.
Iran merespons dengan peringatan balasan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Washington sebaiknya tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, karena langkah yang sama hanya akan menghasilkan konsekuensi serupa.
Gelombang protes di Iran pecah sejak akhir Desember akibat melemahnya mata uang dan melonjaknya biaya hidup. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan politik dan dinilai sebagai salah satu tantangan paling serius bagi pemerintahan Iran sejak Revolusi Islam 1979. Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan ribuan demonstran tewas serta puluhan ribu lainnya ditangkap selama kerusuhan berlangsung.













