JAKARTA, Cobisnis.com – Janji pemerintah Venezuela untuk membebaskan “sejumlah besar” tahanan politik ternyata berjalan jauh lebih lambat dari harapan. Hingga Senin sore waktu setempat, hanya 49 orang yang dibebaskan dari lebih dari 800 tahanan yang dianggap ditahan secara sewenang-wenang karena alasan politik, menurut organisasi hak asasi manusia Penal Forum. Ratusan keluarga lainnya masih menunggu dalam ketidakpastian dan kecemasan.
Jumlah tersebut bahkan kurang dari setengah klaim pemerintah Venezuela yang menyebut telah membebaskan 116 orang. Otoritas tidak merilis daftar nama tahanan yang dibebaskan maupun lokasi pusat penahanan tempat mereka sebelumnya ditahan.
Pekan lalu, Venezuela mulai membebaskan sejumlah tahanan politik berprofil tinggi, termasuk politisi oposisi, setelah adanya tuntutan dari Amerika Serikat. Pemerintah menyebut langkah ini sebagai upaya “mencari perdamaian” dengan Washington, beberapa hari setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolás Maduro dalam sebuah operasi militer yang mengejutkan.
Pemerintah Venezuela juga menyatakan bahwa pembebasan tahanan merupakan bagian dari peninjauan kasus yang sebelumnya diinisiasi secara “sukarela” oleh Maduro dan kini dilanjutkan di bawah mandat presiden sementara Delcy Rodríguez.
Misi Pencari Fakta PBB untuk Venezuela menyambut baik pembebasan tersebut, namun menegaskan jumlahnya masih “jauh dari kewajiban hak asasi manusia” negara itu. PBB menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap semua orang yang ditahan secara sewenang-wenang, seraya menyoroti trauma yang dialami keluarga para tahanan.
“Para kerabat harus diberikan informasi yang jelas dan tepat waktu mengenai nasib, keberadaan, dan status hukum orang-orang yang mereka cintai, serta dijamin akses dan kunjungan secara berkala,” kata misi tersebut.
Selama beberapa hari terakhir, keluarga para tahanan berkemah di luar pusat-pusat penahanan, menyalakan lilin, memasang poster protes, dan berdoa sambil menunggu kabar. Banyak di antara mereka mendesak pemerintah untuk memberikan bukti bahwa para tahanan masih hidup, seperti melalui panggilan video atau foto terbaru.
Evelis Cano, ibu dari seorang tahanan, meminta para pemimpin Venezuela untuk berempati. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap hak asasi manusia, terutama setelah keluarga tahanan menuntut bukti kehidupan di tengah kabar kematian seorang tahanan.
Kekhawatiran meningkat setelah jaksa mengonfirmasi kematian seorang perwira aktif kepolisian nasional yang dipenjara sejak 11 Desember. Jaksa menyebut pria berusia 52 tahun itu meninggal akibat krisis kesehatan mendadak, namun kelompok pembela HAM menilai ia seharusnya bisa dibebaskan dan mendapatkan perawatan medis lebih awal.
Hingga kini, pemerintah belum merilis daftar resmi tahanan yang dibebaskan. Amnesty International menyatakan keprihatinan atas minimnya transparansi dan menilai banyak tahanan merupakan korban penghilangan paksa.
Di tengah tekanan internasional, oposisi Venezuela mengecam jumlah pembebasan yang terbatas sebagai “ejekan yang tidak dapat diterima” bagi publik. Pemimpin oposisi María Corina Machado bahkan menemui Paus Leo XIV di Vatikan untuk meminta intervensi demi pembebasan ratusan tahanan politik yang masih ditahan. Paus menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan perlindungan hak-hak sipil dan hak asasi manusia di Venezuela.














