JAKARTA, Cobisnis.com – Gelombang protes besar-besaran terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin meluas, dengan jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk ‘No Kings’.
Demonstrasi ini berlangsung serentak di berbagai kota di AS, dengan jumlah massa diperkirakan mencapai 8 juta orang di lebih dari 3.300 titik aksi.
Aksi tersebut menjadi salah satu protes terbesar dalam sejarah modern Amerika, mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap kebijakan pemerintah.
Di Los Angeles, situasi memanas ketika ribuan demonstran berkumpul di pusat kota dan berujung bentrokan dengan aparat keamanan.
Polisi Los Angeles menetapkan status Siaga Taktis dan memerintahkan massa untuk membubarkan diri setelah aksi berlangsung hingga malam hari.
Ketika sebagian demonstran menolak bubar, aparat mulai melakukan penangkapan dan menggunakan gas air mata untuk mengendalikan situasi.
Kericuhan terjadi di sekitar Pusat Penahanan Federal, lokasi yang sebelumnya juga menjadi titik panas dalam berbagai aksi protes terkait kebijakan imigrasi.
Sejumlah demonstran dilaporkan memblokir jalan, termasuk akses ke jalan tol utama, yang memicu gangguan lalu lintas di kawasan tersebut.
Di kota lain seperti Denver, aparat juga menyatakan aksi sebagai pertemuan ilegal setelah massa menolak perintah pembubaran.
Setidaknya sembilan orang ditangkap setelah terjadi aksi saling lempar benda antara demonstran dan petugas keamanan.
Gerakan ‘No Kings’ sendiri menyoroti berbagai isu, mulai dari kebijakan luar negeri hingga kondisi ekonomi domestik seperti kenaikan harga energi dan bahan pokok.
Aksi ini juga menjadi bentuk penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai semakin keras dan kontroversial oleh sebagian masyarakat.
Dengan skala yang semakin besar dan tensi yang meningkat, protes ini berpotensi terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.












