JAKARTA, Cobisnis.com – Para ilmuwan kembali menggeser Jam Kiamat (Doomsday Clock) lebih dekat ke tengah malam. Pada Selasa waktu setempat, Bulletin of the Atomic Scientists menetapkan Jam Kiamat 2026 berada di posisi 85 detik menuju tengah malam, menjadikannya yang paling dekat dengan kehancuran global sejak jam simbolis ini pertama kali dibuat pada 1947.
Tengah malam melambangkan momen ketika umat manusia membuat Bumi tidak lagi layak dihuni. Tahun lalu, Jam Kiamat berada di angka 89 detik menuju tengah malam, yang kala itu juga menjadi rekor terdekat.
Presiden dan CEO Bulletin of the Atomic Scientists, Alexandra Bell, mengatakan keputusan ini diambil karena dunia gagal membuat kemajuan signifikan dalam menghadapi berbagai ancaman eksistensial.
“Umat manusia belum membuat kemajuan yang cukup dalam mengatasi risiko eksistensial yang mengancam kita semua,” ujar Bell. “Risiko dari senjata nuklir, perubahan iklim, dan teknologi disruptif terus meningkat. Setiap detik sangat berarti, dan kita kehabisan waktu.”
Para ilmuwan Bulletin menyoroti meningkatnya risiko nuklir, krisis iklim, ancaman biologis, serta perkembangan teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan (AI). Penyebaran misinformasi, disinformasi, dan teori konspirasi juga dinilai memperparah ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia.
Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin, Dr. Daniel Holz, menyatakan bahwa peringatan tahun lalu agar negara-negara memperkuat kerja sama internasional justru tidak diindahkan.
“Alih-alih mendengarkan peringatan ini, negara-negara besar menjadi semakin agresif, konfrontatif, dan nasionalistik,” kata Holz. Ia menyoroti meningkatnya konflik global pada 2025 yang melibatkan negara-negara bersenjata nuklir, serta akan berakhirnya satu-satunya perjanjian pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia pada 4 Februari mendatang.
“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak akan ada penghalang terhadap perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali,” ujarnya.
Selain itu, ancaman serius juga muncul dari bidang ilmu hayati, termasuk pengembangan kehidupan sintetis, sementara dunia dinilai belum memiliki rencana terkoordinasi untuk menghadapi potensi ancaman biologis yang menghancurkan.
Pertumbuhan pesat dan minimnya regulasi terhadap teknologi AI disebut semakin mempercepat penyebaran misinformasi dan memperburuk upaya penanganan seluruh ancaman global tersebut.
Jam Kiamat sendiri bukan alat prediksi pasti, melainkan simbol untuk memicu kesadaran dan diskusi publik mengenai risiko eksistensial yang dihadapi umat manusia. Sejauh ini, Jam Kiamat belum pernah mencapai tengah malam, dan para ilmuwan berharap hal itu tidak pernah terjadi.
Bulletin menegaskan bahwa manusia masih memiliki peluang untuk “memutar kembali waktu” Jam Kiamat melalui tindakan nyata dan kerja sama global, sebagaimana pernah terjadi pada 1991 ketika jam berada di posisi terjauh, yakni 17 menit menuju tengah malam, setelah ditandatanganinya perjanjian pengurangan senjata nuklir antara AS dan Uni Soviet.














