JAKARTA, Cobisnis.com – Hajar Aswad merupakan salah satu simbol paling sakral dalam Islam yang terletak di sudut tenggara Ka’bah. Batu ini selalu menjadi pusat perhatian jutaan jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.
Dalam riwayat Islam, Hajar Aswad diyakini berasal dari surga dan dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS saat pembangunan Ka’bah. Sejumlah hadis menyebut batu ini awalnya berwarna putih bersih sebelum menghitam akibat dosa manusia.
Makna Hajar Aswad tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Batu ini menjadi simbol sejarah, keimanan, dan pengingat hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Di sisi lain, kajian ilmiah modern mulai menyoroti asal-usul Hajar Aswad dari perspektif sains. Sejumlah ilmuwan menduga batu tersebut bukan berasal dari Bumi.
Penelitian yang dikaitkan dengan Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen menunjukkan kemiripan karakteristik Hajar Aswad dengan kaca impaksi. Material ini terbentuk akibat tumbukan meteorit dengan permukaan Bumi.
Dugaan tersebut diperkuat oleh keterkaitan dengan Kawah Wabar di Arab Saudi. Kawah ini dikenal sebagai lokasi jatuhnya meteorit besar ribuan tahun lalu.
Secara fisik, Hajar Aswad memiliki ciri unik. Permukaannya hitam mengilap, bagian dalamnya berwarna lebih terang, serta dilaporkan mampu mengapung di air, sifat yang jarang dimiliki batuan biasa.
Karakteristik tersebut memperkuat dugaan bahwa Hajar Aswad berasal dari material luar angkasa. Meski demikian, penelitian ilmiah dilakukan tanpa merusak atau mengambil sampel langsung dari batu suci tersebut.
Dalam konteks sosial dan keagamaan, temuan ini tidak dimaknai sebagai bantahan terhadap keyakinan umat Islam. Sebaliknya, banyak pihak menilai sains justru memperkuat narasi keimanan.
Keyakinan bahwa Hajar Aswad “turun dari langit” menemukan titik temu dengan pendekatan ilmiah modern. Iman dan sains berjalan berdampingan dalam memahami sejarah batu suci ini.
Hajar Aswad pun tetap dipandang sebagai simbol spiritual utama dalam Islam. Kajian ilmiah hadir sebagai upaya memahami fenomena alam, tanpa mengurangi nilai sakral yang diyakini umat.














