JAKARTA, Cobisnis.com – Induk perusahaan Google, Alphabet, menerbitkan obligasi korporasi yang sangat jarang terjadi: obligasi dengan jatuh tempo 100 tahun. Langkah ini menjadi bagian dari aksi penggalangan dana bernilai miliaran dolar untuk membiayai ekspansi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
Padahal, Alphabet merupakan perusahaan publik dengan valuasi hampir US$4 triliun dan menghasilkan arus kas bebas lebih dari US$73 miliar per tahun. Perusahaan juga memiliki kas sekitar US$126 miliar. Namun angka tersebut dinilai belum cukup, mengingat Google berencana menggandakan belanja AI tahun ini menjadi sekitar US$185 miliar.
Biasanya, perusahaan yang ingin mengumpulkan dana memiliki dua opsi utama: menerbitkan saham atau menjual obligasi. Google memilih jalur utang, termasuk menerbitkan apa yang disebut century bond obligasi dengan tenor 100 tahun.
Obligasi 100 Tahun Sangat Jarang
Obligasi dengan tenor sangat panjang seperti ini tergolong langka, karena perusahaan umumnya tidak bertahan selama satu abad. Investor ritel yang membeli obligasi tersebut hari ini pun kemungkinan besar tidak akan hidup hingga jatuh tempo pada 2126.
Instrumen seperti ini biasanya lebih cocok bagi investor institusi jangka panjang, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa, atau dana abadi universitas yang memiliki kewajiban jangka sangat panjang.
Dalam sejarahnya, penerbitan obligasi 100 tahun oleh perusahaan tidak selalu berakhir manis. IBM menerbitkan obligasi serupa pada 1996 saat dominasinya di industri teknologi belum tergoyahkan, namun tak lama kemudian posisinya tergerus oleh Microsoft dan Apple. JC Penney menjual obligasi 100 tahun pada 1997, tetapi nilainya anjlok ketika perusahaan bangkrut pada 2020. Motorola juga menerbitkan obligasi 100 tahun pada 1997, sebelum mengalami penurunan bisnis bertahun-tahun setelahnya.
Meski begitu, obligasi tersebut tetap dibayar hingga kini, meskipun nilai perusahaan menyusut drastis dibanding masa kejayaannya.
Permintaan Investor Melimpah
Pasar obligasi tenor 100 tahun memang tidak besar, tetapi tetap ada. Dan untuk Alphabet, permintaannya sangat kuat. Menurut Bloomberg, perusahaan berhasil menggalang hampir US$32 miliar dalam waktu kurang dari 24 jam. Obligasi 100 tahun tersebut disebut mengalami kelebihan permintaan hingga hampir 10 kali lipat dari jumlah yang ditawarkan (oversubscribed).
Alphabet juga menjual obligasi dalam denominasi pound sterling Inggris dan franc Swiss, setelah sehari sebelumnya menerbitkan utang senilai US$20 miliar di pasar Amerika Serikat.
Analis menilai investor masih percaya pada kekuatan fundamental perusahaan teknologi besar, termasuk Alphabet, yang memiliki arus kas kuat dan tingkat utang relatif rendah.
Selain itu, Google dinilai memiliki posisi pasar yang sangat dominan. Meski sempat dinyatakan melanggar hukum antimonopoli tahun lalu, pengadilan tidak memaksa perubahan mendasar pada model bisnisnya.
“Jika Anda akan meminjamkan uang kepada seseorang selama 100 tahun, monopoli yang sudah terbukti mungkin bukan pilihan yang buruk,” ujar Steve Sosnick, kepala strategi di Interactive Brokers.
Langkah Google menerbitkan obligasi 100 tahun ini menjadi sinyal besarnya kebutuhan pendanaan dalam perlombaan global pengembangan AI sekaligus menunjukkan kepercayaan pasar bahwa raksasa teknologi tersebut masih akan berdiri kokoh satu abad mendatang.













