JAKARTA, Cobisnis.com – Unggahan foto satelit Malaysia yang dibagikan Kedutaan Besar Amerika Serikat mendadak viral. Gambar dramatis itu menampilkan kilatan cahaya akibat badai petir, bukan lampu kota. Namun, respons publik Malaysia justru ramai dengan humor dan sindiran.
Warganet bercanda seolah Malaysia tidak memiliki minyak atau kota besar. Komentar populer mengatakan “kami tidak punya minyak, cuma sawit dan hutan”, bahkan menambahkan harimau dan buaya sebagai ciri khas negara.
Sindiran ini muncul di tengah kekhawatiran soal kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama setelah pernyataan kontroversial soal penguasaan minyak di negara lain. Malaysia ingin menegaskan bahwa mereka bukan target eksploitasi sumber daya.
Foto satelit yang diunggah menimbulkan gelombang komentar lucu, satire, dan kritis sekaligus. Banyak netizen menekankan bahwa Malaysia berbeda dari Venezuela dan tidak ingin berakhir seperti negara tersebut.
Beberapa komentar juga menyoroti kekayaan alam negara lain yang lebih menarik bagi kepentingan asing, sambil menegaskan kedaulatan Malaysia. Humor ini menjadi bentuk ekspresi publik terhadap isu geopolitik.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana unggahan media sosial bisa menjadi sarana diplomasi rakyat, sindiran, dan refleksi kekhawatiran masyarakat terhadap kebijakan luar negeri.
Respons warganet juga mencerminkan sikap waspada sekaligus santai terhadap narasi internasional. Malaysia dianggap “tidak menarik” bagi kepentingan minyak global, sehingga masyarakat menanggapinya dengan candaan.
Selain sindiran soal minyak, unggahan ini juga menyoroti kesadaran publik terhadap keamanan nasional dan stabilitas politik. Pesan humor tetap mengandung makna serius.
Dengan viralnya unggahan ini, terlihat bahwa masyarakat Malaysia cukup kritis terhadap pengaruh negara besar di wilayah Asia Tenggara. Media sosial menjadi kanal ekspresi dan komentar publik yang efektif.
Secara keseluruhan, fenomena ini memperlihatkan interaksi unik antara diplomasi, satir publik, dan persepsi geopolitik melalui media sosial, di mana humor bisa menjadi alat komunikasi yang kuat.














