JAKARTA, Cobisnis.com – Pekan ini dunia melewati sebuah tonggak sejarah nuklir yang signifikan. Bumi telah mencapai periode terlama tanpa ledakan nuklir sejak dimulainya era atom pada tahun 1945. Berdasarkan data dari Union of Concerned Scientists (UCS), dunia telah melewati lebih dari delapan tahun, empat bulan, dan 11 hari tanpa uji coba nuklir.
Rekor ini dihitung sejak Korea Utara melakukan uji coba nuklir terakhir di dunia pada 3 September 2017. Sebelumnya, rekor terlama terjadi antara tahun 1998 hingga 2006. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa “kemenangan beruntun” ini berada di ambang bahaya menyusul ancaman dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Rusia Vladimir Putin untuk memulai kembali pengujian senjata nuklir.
Ancaman ini semakin nyata dengan mendekatnya masa kedaluwarsa perjanjian New START pada 5 Februari mendatang. Perjanjian antara AS dan Rusia ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang dapat dikerahkan. Jika kesepakatan ini berakhir tanpa perpanjangan, jumlah senjata nuklir yang siap digunakan oleh kedua negara dapat meningkat drastis dalam waktu singkat, yang meningkatkan risiko kecelakaan atau salah kalkulasi yang bersifat katastrofik.
Dylan Spaulding, ilmuwan senior di UCS, menilai rencana dimulainya kembali pengujian sebagai langkah yang tidak bijaksana dan tidak perlu. Dengan teknologi saat ini, negara-negara berkekuatan nuklir maju sebenarnya dapat melakukan uji coba “sub-kritis” yang mensimulasikan proses nuklir tanpa perlu melakukan ledakan nyata. Membuka kembali “kotak pandora” uji coba nuklir dianggap hanya akan memicu ketidakstabilan global di tengah situasi dunia yang sudah genting.
Sejarah mencatat telah terjadi 2.055 uji coba nuklir oleh delapan negara sejak tes Trinity di New Mexico pada 1945. Amerika Serikat memimpin dengan 1.030 tes, diikuti oleh Rusia dengan 715 tes. Meskipun dunia sedang memecahkan rekor perdamaian nuklir, kekhawatiran akan perlombaan senjata baru kini justru lebih mendominasi daripada perayaan atas pencapaian tersebut.














