JAKARTA, Cobisnis.com – Drama keluarga David dan Victoria Beckham kembali menjadi sorotan publik global. Kali ini, perhatian tertuju pada putra sulung mereka, Brooklyn Peltz Beckham, yang secara terbuka menyatakan tidak ingin lagi berdamai dengan keluarganya. Sikap ini memicu diskusi luas tentang fenomena no contact atau memutus hubungan dengan keluarga, terutama di kalangan Generasi Z.
Dalam beberapa jam, media sosial dipenuhi perbincangan setelah Brooklyn mengunggah enam slide Instagram Stories yang menuduh orang tuanya menanamkan cerita negatif tentang dirinya di media, menampilkan hubungan yang tidak autentik di media sosial, serta mencoba merusak pernikahannya dengan Nicola Peltz. Ia menegaskan secara gamblang, “Saya tidak ingin berdamai dengan keluarga saya.”
Pernyataan tersebut langsung menyeret Brooklyn ke dalam diskursus besar yang tengah mengguncang hubungan antara anak dewasa dan orang tua lintas generasi. Fenomena no contact menjadi perbincangan hangat di TikTok dan platform sosial lainnya, di mana sebagian anak mendapat dukungan karena memilih kesehatan mental, sementara sebagian orang tua merasa kebingungan hingga menyuarakan versinya sendiri di ruang publik.
Profesor pengembangan manusia dari Cornell University, Karl Pillemer, menjelaskan bahwa meski kesadaran soal no contact meningkat karena media sosial, belum ada data kuat yang menunjukkan lonjakan signifikan kasus tersebut. Berdasarkan riset tahun 2020, sekitar 27% warga Amerika dewasa pernah memutus hubungan dengan anggota keluarga, dan mayoritas merasa terganggu oleh keretakan itu.
Menurut Pillemer, generasi muda kini lebih mendapatkan validasi ketika memutus hubungan keluarga, sementara orang tua sering kali kesulitan memahami istilah yang digunakan anak-anak mereka seperti gaslighting atau narcissistic parenting. Nilai lama seperti “darah lebih kental dari air” mulai ditinggalkan, digantikan oleh tuntutan hubungan yang dianggap sehat dan bermakna.
Kasus Beckham menjadi semakin menarik karena status mereka sebagai dinasti selebritas dunia. Sejak kisah cinta bak dongeng David Beckham dan Victoria Adams pada akhir 1990-an, keluarga ini dikenal harmonis. Brooklyn sendiri telah mencoba berbagai peran, mulai dari fotografer, model, hingga koki, dalam upaya menemukan jati dirinya di tengah sorotan publik.
Namun, citra keluarga sempurna itu runtuh ketika Brooklyn menuding unggahan media sosial orang tuanya bersifat performatif dan menyebut kepalsuan tersebut sebagai bagian dari hidup yang telah ia jalani sejak lahir. Konflik yang sebelumnya hanya berupa rumor tabloid kini terbuka lebar di ruang publik.
Bagi publik, drama ini menjadi pengingat bahwa bahkan keluarga paling terkenal pun tidak kebal dari konflik mendalam. Di balik gemerlap kehidupan selebritas, perpecahan keluarga tetap menyisakan luka yang nyata dan menyakitkan.














