JAKARTA, Cobisnis.com – Seorang peretas mengklaim telah membobol superkomputer milik negara di China dan mencuri data sensitif dalam jumlah sangat besar.
Data yang diduga bocor mencapai lebih dari 10 petabyte. Jumlah itu setara dengan ribuan terabyte informasi digital.
Menurut sejumlah pakar siber, data tersebut diduga berasal dari pusat superkomputer nasional di Tianjin.
Namun, asal pasti data itu masih belum bisa diverifikasi secara independen.
Akun bernama FlamingChina lebih dulu mengunggah sampel data melalui kanal anonim di Telegram pada 6 Februari.
Mereka mengklaim data itu mencakup riset kedirgantaraan, militer, bioinformatika, hingga simulasi fusi.
Selain itu, kelompok tersebut menyebut beberapa institusi besar ikut terkait dalam dokumen tersebut.
Nama yang disebut antara lain Aviation Industry Corporation of China dan National University of Defense Technology.
Sejumlah sampel menunjukkan dokumen berlabel rahasia dalam bahasa Mandarin. Beberapa file juga memuat simulasi teknis bom dan rudal.













