JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah perhatian dunia yang beralih ke konflik AS-Israel dengan Iran, kondisi di Gaza justru masih jauh dari kata membaik.
Serangan militer Israel terhadap wilayah Gaza dan Tepi Barat dilaporkan terus berlangsung, meski sebelumnya sempat ada kesepakatan gencatan senjata.
Dalam insiden terbaru di Khan Younis, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya enam warga Palestina, termasuk seorang anak.
Korban terdiri dari tiga anggota kepolisian dan tiga warga sipil, sementara empat orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada November 2025, tercatat 692 warga Palestina tewas dan 1.895 lainnya terluka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kekerasan masih terjadi meskipun ada upaya diplomasi yang terus dijalankan.
Di luar konflik bersenjata, warga Gaza juga menghadapi krisis energi yang sangat parah dan berkepanjangan.
Pasokan listrik di wilayah tersebut telah terputus selama sekitar dua tahun, membuat kehidupan sehari-hari menjadi sangat terbatas.
Pembangkit listrik utama berhenti beroperasi sejak Oktober 2023 akibat kehabisan bahan bakar, memicu pemadaman total.
Kondisi ini berdampak langsung pada layanan vital seperti rumah sakit, distribusi air bersih, hingga jaringan komunikasi.
Sebagian warga bergantung pada generator, namun ketersediaan bahan bakar yang minim membuat solusi ini tidak berkelanjutan.
Kerusakan infrastruktur akibat perang juga memperparah situasi, membuat sistem kelistrikan hampir tidak berfungsi secara keseluruhan.
Sejak 2023 hingga 2026, Gaza mengalami kehancuran besar dengan korban jiwa mencapai sekitar 75.000 orang.
Krisis kemanusiaan yang terjadi kini dianggap sebagai salah satu yang terburuk di kawasan dalam beberapa dekade terakhir.
Meski perhatian global mulai bergeser, kondisi di Gaza menunjukkan bahwa konflik lama belum benar-benar selesai.












