JAKARTA, Cobisnis.com – Emas dan perak kembali menunjukkan dominasinya sebagai aset favorit global per 20 Januari 2026. Keduanya berhasil menempati posisi atas dalam daftar aset dengan kapitalisasi terbesar, mengungguli nama-nama besar teknologi seperti NVIDIA, Apple, dan Google.
Di tengah fluktuasi pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global, investor besar memilih kembali “aset keras” sebagai pelindung nilai. Kepercayaan pada emas dan perak tak lekang oleh waktu, berbeda dengan sektor teknologi yang sangat bergantung pada inovasi dan sentimen pasar.
Harga emas tercatat stabil di kisaran $2.050 per ons troi, sementara perak menguat hingga $28,5 per ons troi. Keduanya menunjukkan pertumbuhan yang solid meski pasar keuangan dunia sedang dilanda volatilitas.
Analisis pasar menunjukkan, emas dan perak tetap menjadi instrumen lindung nilai utama menghadapi inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik. Di banyak negara, permintaan emas fisik meningkat seiring ketidakpastian nilai mata uang lokal.
Investor institusi juga kembali memfavoritkan logam mulia. Dana pensiun, hedge fund, dan bank sentral membeli emas dan perak dalam jumlah besar untuk memperkuat cadangan dan melindungi portofolio dari risiko pasar modal.
Sementara itu, saham teknologi meski tetap menarik, mengalami tekanan karena kenaikan biaya produksi, persaingan ketat, dan ketidakpastian regulasi di AS dan Eropa. Hal ini membuat beberapa investor sementara waktu mengalihkan dana ke aset yang lebih stabil.
Selain nilai investasi, emas dan perak juga memiliki peran sosial dan budaya. Kedua logam ini tetap menjadi simbol kekayaan dan keamanan finansial di berbagai negara, terutama di Asia dan Timur Tengah.
Tren ini menunjukkan pergeseran sentimen global: uang besar kembali memilih kepastian dibandingkan janji pertumbuhan. Investor global menilai likuiditas dan keamanan jangka panjang lebih penting daripada potensi keuntungan cepat.
Analis pasar menekankan bahwa logam mulia tak hanya aman untuk lindung nilai, tapi juga fleksibel. Bisa dijadikan jaminan, diperdagangkan di pasar spot maupun berjangka, serta mudah dicairkan bila dibutuhkan.
Dengan kondisi ekonomi yang rapuh dan inflasi yang masih membayangi, emas dan perak diyakini akan terus menjadi “raja aset” di tahun-tahun mendatang. Investor yang memahami siklus ini cenderung mengamankan logam mulia dalam portofolio mereka.














