JAKARTA, Cobisnis.com – Harga Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level US$ 66.660 pada Kamis (12/2/2026). Setelah aksi jual besar di Januari, harga BTC membentuk pola bear flag di chart harian, menandakan tren turun masih berlanjut.
Sejak pertengahan Januari, harga Bitcoin turun sekitar 38% ke US$ 60.130, lalu rebound ke US$ 72.200 pada awal Februari. Rebound ini membentuk pola bear flag yang menunjukkan potensi kelanjutan penurunan, bukan pemulihan.
Pada 10 Februari, harga menembus batas bawah pola bear flag, mengonfirmasi tekanan bearish. Indikator momentum, termasuk Relative Strength Index (RSI), telah memberi sinyal tekanan jual yang tersembunyi di pasar.
Klaster terkuat Bitcoin berada di sekitar US$ 63.100, dengan 1,3% pasokan BTC terkonsentrasi di area ini. Level US$ 63.000 menjadi dinding permintaan utama yang berperan sebagai batas pertahanan terakhir pasar.
Jika level US$ 63.000 bertahan, pembeli mungkin mencoba menstabilkan harga karena banyak holder masih berada di posisi impas. Namun, jika tembus, risiko penurunan akan meningkat tajam.
Di bawah US$ 63.000, zona utama berikutnya berada di sekitar US$ 57.740, dan kepanikan dapat memicu penurunan lebih dalam ke kisaran US$ 42.510. Kondisi ini bisa menjadi reset total pada struktur pasar terbaru.
Sementara itu, proses pemulihan tetap sulit. Harga Bitcoin perlu menembus US$ 72.130 untuk meredakan tekanan, dan reli di atas US$ 79.290 baru bisa menandai pelemahan tren turun secara umum.
Harga BTC saat ini berada di tengah keyakinan yang pudar dan spekulasi yang meningkat. Kegagalan bear flag sudah membuka arah pasar, dan aksi jual dari holder memperkuat tren turun.
Investor disarankan tetap waspada terhadap pergerakan US$ 63.000, karena level ini menjadi patokan kunci bagi stabilitas pasar kripto jangka pendek.
Keseluruhan kondisi menunjukkan pasar Bitcoin masih dalam fase tekanan bearish, dan semua bergantung pada batas permintaan utama di US$ 63.000.












