JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran awal perundingan berisiko tinggi di Oman pada Jumat, di tengah meningkatnya ketegangan militer dan ancaman konflik terbuka di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pembicaraan tersebut sebagai “sangat baik”, meski hasil akhirnya masih belum jelas.
“Iran tampaknya sangat ingin mencapai kesepakatan. Kita harus lihat seperti apa kesepakatan itu,” kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One.
Pertemuan di negara Teluk tersebut menjadi perundingan pertama antara kedua pihak sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Republik Islam Iran pada musim panas tahun lalu. Menurut sumber yang mengetahui jalannya negosiasi, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan dalam pertemuan berikutnya setelah berkonsultasi dengan pemerintah masing-masing.
Perundingan ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Trump sebelumnya juga mengancam akan menyerang Iran jika negara itu menggunakan kekerasan mematikan terhadap demonstran atau menolak menandatangani kesepakatan nuklir.
Menjelang pembicaraan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran memasuki diplomasi dengan kewaspadaan penuh.
“Kami terlibat dengan itikad baik dan tetap teguh pada hak-hak kami,” tulis Araghchi di platform X.
Meski demikian, retorika keras tetap berlanjut. Trump bahkan mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “seharusnya sangat khawatir” menjelang negosiasi. Setelah pembicaraan selesai, Trump kembali menegaskan bahwa armada besar militer AS sedang menuju kawasan tersebut.
Siapa Yang Terlibat?
Perundingan melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff, serta Jared Kushner, menantu Presiden Trump. Pembicaraan dilakukan secara tidak langsung dan dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang secara terpisah bertemu dengan delegasi masing-masing pihak.
Foto-foto yang dirilis Kantor Berita Oman juga menunjukkan kehadiran Panglima Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dalam rangkaian pertemuan tersebut.
Media Iran menyebut format perundingan ini mirip dengan putaran sebelumnya, di mana mediator Oman bolak-balik menyampaikan pesan antara Washington dan Teheran. Sebelum perang singkat Iran-Israel pada Juni lalu, kedua negara telah menjalani lima putaran negosiasi yang akhirnya terhenti setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Apa Yang Dibahas?
Araghchi menyampaikan sebuah “rencana awal” kepada mediator Oman untuk mengelola situasi terkini antara Iran dan Amerika Serikat. Rencana tersebut kemudian diteruskan kepada delegasi AS, dan respons Washington dijadwalkan disampaikan kembali kepada pihak Iran.
Ruang lingkup pembicaraan masih belum sepenuhnya jelas. Iran menegaskan bahwa mereka hanya ingin membahas isu program nuklir, sementara Amerika Serikat mendorong agenda yang lebih luas, termasuk program rudal balistik Iran, jaringan proksi bersenjata di kawasan, serta penindakan keras terhadap protes domestik.
Isu utama tetap berkisar pada pengayaan uranium. Iran menuntut hak untuk memperkaya uranium dan menawarkan pengawasan ketat agar programnya tidak dijadikan senjata, dengan imbalan pencabutan sanksi. Namun, AS dan sekutunya menolak tuntutan tersebut.
Usai perundingan, Amerika Serikat justru mengumumkan sanksi baru terhadap sektor minyak Iran, termasuk terhadap 14 kapal pengangkut minyak. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa tekanan ekonomi tetap akan dilanjutkan.
Apa Taruhannya?
Amerika Serikat telah mengerahkan aset militer tambahan, termasuk kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, ke kawasan Timur Tengah. Hal ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko perang.
Trump menyebut AS memiliki “armada besar” yang bergerak ke arah Iran sebagai langkah antisipasi. Meski perundingan memunculkan harapan meredanya konflik, ancaman eskalasi tetap membayangi.
Negara-negara kawasan berupaya mencegah pecahnya perang baru yang berpotensi mengguncang stabilitas regional. Iran sendiri memperingatkan bahwa serangan Amerika Serikat tidak akan dibalas dengan sikap menahan diri seperti sebelumnya.
Teheran diyakini memiliki ribuan rudal dan drone yang mampu menargetkan pasukan dan aset AS di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga dapat mengerahkan jaringan proksi di kawasan, menyerang kepentingan Israel dan Amerika Serikat, serta mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz jalur vital yang dilalui lebih dari seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak ekonomi global.













