JAKARTA, Cobisnis.com – Rentetan serangan terbaru dari militer Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran berlanjut. Fasilitas nuklir Arak menjadi sasaran serangan gabungan kedua negara pada Jumat (27/3/2026).
Pabrik di Ardakan, Provinsi Yazd, merupakan fasilitas pengolahan uranium milik Iran. Pejabat setempat menyatakan serangan terjadi beberapa menit yang lalu, namun tidak menimbulkan korban jiwa berkat langkah pengamanan sebelumnya.
IDF atau Pasukan Pertahanan Israel memperingatkan warga sipil di zona sekitar fasilitas nuklir untuk evakuasi melalui akun resmi X, sembari menegaskan target mereka adalah infrastruktur militer.
Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), reaktor air berat di Arak masih dalam tahap pembangunan hingga tahun lalu. Reaktor ini sebelumnya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi menghasilkan plutonium.
Israel sebelumnya telah menyerang Arak pada Juni 2025 dalam perang 12 hari dengan Iran, saat itu reaktor belum beroperasi dan tidak mengandung material nuklir.
Serangan kali ini menegaskan eskalasi ketegangan AS-Israel terhadap program nuklir Iran, meski Teheran menegaskan perlindungan terhadap warga sipil tetap prioritas.
Pemerintah Iran menekankan objek yang diserang adalah fasilitas pengolahan uranium, bukan reaktor operasional. Penyerangan ini memicu peringatan diplomatik internasional terkait stabilitas kawasan.
Konflik yang berkepanjangan di kawasan ini berdampak pada keamanan regional dan kemungkinan mempengaruhi jalur energi global. Arak menjadi simbol ketegangan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat.
Diplomasi kini menjadi sorotan utama untuk meredam eskalasi. PBB dan IAEA terus memantau situasi guna memastikan keselamatan warga dan mencegah penyalahgunaan teknologi nuklir.
Masyarakat internasional diminta waspada, karena potensi konflik lebih luas tetap ada di kawasan Asia Barat. Serangan ini menjadi pengingat ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.













