JAKARTA, Cobisnis.com – Penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu bagi pria dan perempuan di Amerika Serikat selama lebih dari 100 tahun, serta menjadi penyebab utama kematian orang dewasa di seluruh dunia dengan kontribusi sekitar satu dari tiga kematian global. Para ahli jantung menilai kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, serta pola makan tidak sehat sebagai faktor utama terutama konsumsi biji-bijian olahan, gula tambahan, dan lemak jenuh yang menyumbat pembuluh darah dari daging merah, daging olahan, serta produk susu penuh lemak.
Pedoman Diet Amerika Serikat 2025–2030 yang baru dirilis memang membatasi biji-bijian olahan, gula tambahan, dan makanan ultra-proses (UPF), sebuah langkah yang diapresiasi komunitas medis. Namun, piramida makanan versi terbaru justru menempatkan daging merah dan sumber protein tinggi lemak jenuh di posisi teratas, sejajar dengan buah dan sayur segar yang dikenal menyehatkan jantung. Menurut para kardiolog, pendekatan ini bertentangan dengan bukti ilmiah.
“Promosi lemak jenuh dan peningkatan asupan protein bertentangan dengan seluruh ilmu nutrisi dan kardiologi,” ujar Dr. Kim Williams, Ketua Departemen Penyakit Dalam University of Louisville dan mantan Presiden American College of Cardiology. Ia menegaskan bahwa lemak jenuh seperti mentega, lemak sapi, daging merah, dan daging olahan telah terbukti berkaitan erat dengan meningkatnya kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Sejumlah uji klinis terkontrol menunjukkan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dari minyak nabati dan biji-bijian dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 30%, setara dengan manfaat obat statin. “Tidak ada keraguan bahwa pengurangan lemak jenuh dan peningkatan lemak tak jenuh dari ikan serta sumber nabati dapat menyelamatkan nyawa,” kata Dr. Monica Aggarwal dari University of Florida.
Para ahli juga mengingatkan bahwa pedoman baru berpotensi disalahartikan publik sebagai izin mengonsumsi steak, mentega, atau lemak sapi secara bebas. Padahal, mencapai batas maksimal 10% kalori harian dari lemak jenuh hampir mustahil jika pola makan difokuskan pada protein hewani berlemak.
Lemak trans terutama dari proses industri dan juga yang secara alami terdapat pada produk hewani ruminansia dinilai paling berbahaya karena bersifat pro-inflamasi dan mempercepat pengerasan pembuluh darah. American Heart Association sendiri sudah sejak 1961 merekomendasikan pengurangan lemak jenuh demi kesehatan jantung, sebuah panduan yang terus diperkuat oleh ratusan studi hingga kini.
Sebaliknya, pola makan Mediterania yang menekankan buah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, dan minyak zaitun terbukti menurunkan risiko diabetes, demensia, kanker, serta meningkatkan kesehatan jantung dan umur panjang. Daging merah dan makanan manis dalam diet ini dibatasi ketat dan hanya dikonsumsi sesekali.
Soal protein, para ahli menilai sebagian besar warga AS termasuk anak-anak sudah mengonsumsi protein lebih dari cukup. “Defisiensi protein hampir tidak ada di Amerika Serikat,” kata Dr. Andrew Freeman. Ia menambahkan bahwa kelebihan protein justru dapat membebani ginjal dan dikaitkan dengan risiko kanker tertentu.














