JAKARTA, Cobisnis.com – Politikus Partai Demokrat Abigail Spanberger resmi dilantik pada Sabtu sebagai gubernur perempuan pertama dalam sejarah Virginia, di tengah gerimis dan cuaca dingin di luar gedung Capitol negara bagian. Pelantikan ini menandai berakhirnya ratusan tahun dominasi laki-laki di posisi tertinggi pemerintahan negara bagian tersebut.
Spanberger mengalahkan kandidat Republik Winsome Earle-Sears dan menggantikan Gubernur Glenn Youngkin, yang juga berasal dari Partai Republik. Kemenangannya membuka babak baru bagi Virginia, di saat Partai Demokrat kembali memegang kendali pemerintahan negara bagian sementara Presiden Republik Donald Trump berkuasa di Gedung Putih, Washington DC.
“Sejarah dan bobot momen ini tidak luput dari perhatian saya,” ujar Spanberger dalam pidato pelantikannya. “Saya menyimpan rasa syukur yang mendalam kepada generasi demi generasi yang telah berjuang agar perempuan bisa ikut memberikan suara, meski mereka hanya bisa bermimpi akan hari seperti ini.”
Dalam kampanyenya, Spanberger berjanji melindungi perekonomian Virginia dari kebijakan agresif pemerintahan Trump. Ia menyoroti pemangkasan aparatur sipil negara, naiknya harga barang kebutuhan, serta perubahan kebijakan yang berdampak pada sistem layanan kesehatan Virginia yang dinilainya sudah rapuh.
Dalam sindiran terselubung kepada presiden, Spanberger mengatakan sudah saatnya warga Virginia memperbaiki apa yang rusak.
“Saya tahu banyak dari Anda khawatir dengan sikap ceroboh yang datang dari Washington,” katanya. “Anda khawatir terhadap kebijakan yang merugikan komunitas kita, memangkas akses layanan kesehatan, mengancam rumah sakit di daerah pedesaan, dan mendorong kenaikan biaya hidup.”
Dua politisi Demokrat lain juga dilantik bersamaan. Ghazala Hashmi mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim pertama yang menjabat posisi tingkat negara bagian di Amerika Serikat, dengan dilantik sebagai wakil gubernur. Sementara itu, Jay Jones menjadi jaksa agung kulit hitam pertama dalam sejarah Virginia.
Usai upacara, Hashmi dan Jones berdiri di belakang Spanberger saat ia menandatangani 10 perintah eksekutif pertamanya. Salah satunya mencabut kebijakan era Youngkin yang menginstruksikan aparat penegak hukum dan petugas pemasyarakatan negara bagian untuk membantu penegakan hukum imigrasi federal.
“Penegak hukum lokal tidak seharusnya dipaksa mengalihkan sumber daya mereka yang terbatas untuk menegakkan hukum imigrasi sipil federal,” tegas Spanberger.
Pelantikan Spanberger sebagai gubernur ke-75 Virginia menjadi tonggak sejarah besar. Sejak menjadi persemakmuran pada 1776, jabatan gubernur selalu dipegang oleh laki-laki, dan bahkan sebelum itu tidak ada perempuan yang pernah menjabat sebagai gubernur kolonial.
Ia akan disapa dengan gelar resmi “Madam Governor” atau, menurut beberapa pejabat, “Her Excellency.”
Sejumlah tokoh Demokrat nasional turut hadir dalam pelantikan tersebut, termasuk Gubernur terpilih New Jersey Mikie Sherrill dan Gubernur Maryland Wes Moore. Senator AS Elissa Slotkin dan Adam Schiff juga tampak di antara hadirin. Mantan Gubernur Virginia L. Douglas Wilder, yang bertepatan merayakan ulang tahunnya ke-95, turut menghadiri acara tersebut.
“Di tangga ini, Virginia pernah melantik gubernur ke-66 dan gubernur kulit hitam terpilih pertama di Amerika Serikat,” kata Spanberger. “Gubernur L. Douglas Wilder mengubah pandangan banyak warga tentang apa yang sebelumnya dianggap mustahil.”
Dalam setahun terakhir, Partai Demokrat Virginia berhasil merebut 13 kursi tambahan di Dewan Delegasi, setahun setelah kekalahan telak partai tersebut secara nasional dalam pemilu presiden 2024.
Para legislator Demokrat di parlemen negara bagian berjanji akan bekerja sama dengan Spanberger untuk mendorong agenda mereka, termasuk rencana menggambar ulang peta daerah pemilihan kongres menjelang pemilu paruh waktu tahun ini.













