JAKARTA, Cobisnis.com – Virus Nipah ternyata pernah terdeteksi pada hewan di Indonesia. Hal ini diungkap Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti.
Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik yang berpotensi memicu wabah jika tidak diantisipasi. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah, terutama dari genus Pteropus, yang dapat membawa virus tanpa gejala dan berisiko menularkan ke hewan lain maupun manusia.
Penularan ke manusia bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan terkontaminasi, atau transmisi antarmanusia. Hingga 1 Februari 2026, belum ada catatan virus Nipah menginfeksi masyarakat di Indonesia.
Namun, penelitian BRIN menunjukkan adanya antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus di Kalimantan Barat. Studi molekuler PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah.
Lebih lanjut, virus serupa ditemukan pada Pteropus hypomelanus di Jawa, dengan karakter genetik mirip isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya. Kondisi ekologis Indonesia—keanekaragaman kelelawar tinggi, kedekatan habitat satwa dengan manusia, serta praktik perdagangan satwa—meningkatkan risiko spillover.
Pasar hewan dengan sanitasi rendah dan populasi babi besar di beberapa wilayah menambah potensi penularan lintas spesies. Interaksi manusia-hewan-lingkungan menjadi faktor utama munculnya penyakit zoonotik.
Niluh menegaskan, hingga kini belum ada vaksin atau obat spesifik untuk virus Nipah. Penanganan kasus bergantung pada perawatan suportif, sehingga pencegahan menjadi langkah paling penting.
BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Strategi One Health, yang menggabungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, jadi kunci kesiapsiagaan.
Kemenkes pun mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak dengan hewan potensial terinfeksi, selalu mencuci tangan, memasak makanan dengan matang, dan mengikuti protokol kesehatan jika melakukan perjalanan ke negara terdampak.
Deteksi dini dan edukasi publik diharapkan mencegah penyebaran virus Nipah, sekaligus menjadi dasar kebijakan nasional dalam menghadapi penyakit emerging dan re-emerging.














