JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat dan terjun bebas hingga 6,7% dalam satu sesi perdagangan. Penurunan tajam ini terjadi tanpa adanya sentimen domestik besar, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi trading halt.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terkejut. Tidak ada faktor cuaca ekonomi seperti inflasi melonjak atau kebijakan mendadak, namun tekanan jual muncul serempak di hampir seluruh sektor saham.
Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual. Perbankan, energi, dan saham berbasis komoditas kompak melemah, menyeret IHSG ke zona merah dalam waktu singkat.
Tekanan kuat datang dari aksi outflow investor asing. Ketidakpastian geopolitik global yang masih memanas membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Selain faktor geopolitik, perubahan bobot dan aturan dalam indeks MSCI turut menjadi sorotan. Penyesuaian ini memicu rebalancing portofolio oleh fund manager global, yang berdampak langsung pada pasar saham domestik.
Aliran dana asing yang keluar dalam jumlah besar membuat likuiditas pasar menipis. Akibatnya, tekanan jual semakin sulit diredam oleh investor lokal meski valuasi mulai terlihat menarik.
Situasi ini memunculkan perdebatan di kalangan investor ritel. Sebagian memilih bertahan di posisi cash untuk menghindari volatilitas lanjutan, sementara lainnya mulai melirik peluang akumulasi bertahap.
Secara historis, koreksi tajam sering kali membuka ruang rebound. Namun, risiko lanjutan tetap terbuka jika sentimen global belum mereda dan arus dana asing belum kembali.
Analis menilai keputusan investasi saat ini harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Saham fundamental kuat dengan neraca sehat dinilai lebih aman untuk strategi jangka menengah hingga panjang.
Pasar kini menunggu sinyal stabilisasi, baik dari kondisi geopolitik global maupun kepastian arah aliran dana asing. Tanpa katalis positif, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut.














