JAKARTA, Cobisnis.com – Jika Charles Bediako benar-benar bermain untuk tim basket Alabama melawan Tennessee pada Sabtu malam, hal itu bukan karena sistem olahraga kampus Amerika telah runtuh sepenuhnya, bukan pula semata karena Kongres enggan bertindak atau NCAA tidak tegas. Alasannya jauh lebih sederhana: pelatih Alabama, Nate Oats, memilih untuk memainkannya.
Bediako, pemain berusia 23 tahun yang pernah memperkuat Alabama, telah menyatakan diri masuk NBA Draft dan kemudian menandatangani kontrak dua arah dengan San Antonio Spurs pada 2023. Meski tak pernah tampil di NBA, ia telah bermain di G League dan liga pengembangan lain bersama Spurs, Orlando Magic, Denver Nuggets, hingga Detroit Pistons. Kini, berkat putusan sementara pengadilan Alabama yang melarang NCAA menjatuhkan sanksi, pintu kembali ke basket kampus terbuka lebar.
Namun, keputusan itu tidak memaksa Oats untuk menurunkannya. Sama seperti pelatih Baylor, Scott Drew, yang sebenarnya tidak wajib memainkan James Nnaji dari G League. Intinya jelas: pelatih masih memegang kendali.
Olahraga kampus tidak “rusak” dengan sendirinya. Ia dirusak oleh keputusan demi keputusan yang mementingkan kepentingan jangka pendek. Ketika situasi makin absurd, solusi justru dicari melalui intervensi Kongres atau sanksi administratif, padahal jalan keluarnya sederhana: pelatih bisa berkata tidak.
Tidak pada kontrak jutaan dolar untuk mahasiswa-atlet. Tidak pada tuntutan agen pemain SMA. Tidak pula pada mantan pemain kampus yang ingin kembali demi jalan pintas. Pelatih punya kuasa atas dua hal terpenting dalam olahraga: kesempatan dan waktu bermain.
Masalahnya, banyak pelatih enggan menggunakan kuasa itu. Dalih klasiknya: jika saya tidak mengambilnya, orang lain akan melakukannya. Logika yang mirip dengan alasan remaja kepada orang tua. Bedanya, pelatih dibayar untuk menang, bukan untuk mendidik karakter.
Secara kompetitif, Bediako memang menggoda. Ia center setinggi 213 cm, pelindung ring, dan pernah menjadi bagian inti tim Alabama terbaik sepanjang sejarah dengan rekor 31–6 serta gelar SEC. Di musim ini, Alabama terlihat biasa saja di sektor big man. Maka, secara pragmatis, keputusan Oats bisa dimengerti.
Namun sejarah menunjukkan, tim dengan “tentara bayaran” mahal belum tentu juara. Banyak kisah sukses justru lahir dari pemain yang berkembang perlahan, bukan dari solusi instan. Bahkan Baylor, setelah memasukkan Nnaji, justru menelan lima kekalahan dari enam laga terakhir.
Mungkin, memang sudah waktunya pelatih kembali berani berkata tidak.














