JAKARTA, Cobisnis.com – Sejumlah saham konglomerat yang digadang-gadang berpeluang masuk indeks MSCI ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Tekanan jual mendominasi seiring sikap antisipatif investor menjelang rebalancing MSCI.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok 9,84 persen ke level Rp348 per saham. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tingginya aktivitas transaksi.
Nilai transaksi saham-saham emiten Grup Bakrie dan Grup Salim tercatat mencapai Rp4,12 triliun. Angka ini menjadi yang tertinggi di pasar dan mencerminkan kuatnya aksi jual dalam satu hari perdagangan.
Saham Grup Bakrie lainnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), juga tak luput dari tekanan. DEWA ditutup ambles 9,52 persen ke level Rp665 per saham dengan nilai transaksi mencapai Rp904,26 miliar.
Tekanan jual signifikan tidak hanya terjadi pada saham Grup Bakrie. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) milik Grup Barito juga terkoreksi tajam sebesar 12,93 persen ke posisi Rp10.775 per saham.
PTRO menjadi salah satu saham yang banyak disorot pelaku pasar. Saham ini dinilai sensitif terhadap perubahan sentimen global, khususnya terkait indeks MSCI.
BUMI dan PTRO disebut-sebut analis pasar sebagai kandidat kuat untuk masuk ke dalam MSCI Standard Cap pada rebalancing Februari mendatang. Potensi ini sempat mendorong kenaikan harga pada periode sebelumnya.
Namun, jelang pengumuman resmi, investor cenderung mengambil langkah defensif. Aksi ambil untung dan pengurangan risiko terlihat meningkat di saham-saham kandidat MSCI.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan harga tak lepas dari sikap kehati-hatian investor. Pasar tengah menanti pengumuman perubahan metodologi perhitungan free float MSCI yang dijadwalkan akhir Januari.
Perubahan metodologi tersebut berpotensi memengaruhi peluang emiten masuk indeks global. Kondisi ini membuat pergerakan saham konglomerat menjadi lebih volatil dalam jangka pendek.














