JAKARTA, Cobisnis.com – Umat Islam resmi memasuki Bulan Syaban 1447 Hijriah sejak Selasa, 20 Januari 2026. Kehadiran Syaban menjadi penanda bahwa Ramadan semakin dekat. Meski kerap terlewatkan karena berada di antara Rajab dan Ramadan, bulan ini menyimpan banyak keutamaan yang memiliki nilai besar dalam ajaran Islam.
Syaban bukan sekadar masa transisi. Bulan ini dipandang sebagai waktu persiapan spiritual, di mana umat Islam dianjurkan memperbaiki ibadah, menata hati, serta menyelesaikan kewajiban sebelum memasuki bulan puasa.
Makna dan Latar Belakang Bulan Syaban
Secara bahasa, Syaban berasal dari kata sya‘aba yang berarti berpencar atau bercabang. Pada masa Arab pra-Islam, bulan ini digunakan masyarakat untuk berpencar mencari sumber air atau bersiap menghadapi konflik setelah berakhirnya bulan Rajab yang dimuliakan.
Dalam Islam, Syaban memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap bulan ini dengan meningkatkan ibadah, terutama puasa sunnah. Karena itulah, Syaban kerap disebut sebagai bulan Nabi Muhammad SAW.
Ironisnya, keutamaan Syaban sering terabaikan karena posisinya yang diapit oleh dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan.
Tanggal Penting Syaban 1447 H
Berdasarkan kalender Hijriah yang berlaku di Indonesia, beberapa waktu penting di Bulan Syaban 1447 H antara lain:
Awal Syaban: Selasa, 20 Januari 2026
Malam Nisfu Syaban: Senin malam, 2 Februari 2026
Hari Nisfu Syaban: Selasa, 3 Februari 2026
Sementara itu, akhir Syaban diperkirakan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026 menurut Muhammadiyah, dan Rabu, 18 Februari 2026 menurut versi Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama. Perbedaan ini disebabkan oleh metode hisab dan rukyat yang digunakan.
Keutamaan Bulan Syaban
Syaban dikenal sebagai bulan diangkatnya amal perbuatan manusia. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal-amal diangkat pada bulan ini, dan beliau lebih menyukai amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Selain itu, Syaban menjadi sarana latihan sebelum Ramadan. Puasa sunnah dan peningkatan ibadah di bulan ini membantu umat Islam mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual.
Keistimewaan lainnya adalah Malam Nisfu Syaban yang diyakini sebagai malam penuh ampunan. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Allah SWT melimpahkan ampunan-Nya, kecuali kepada mereka yang menyekutukan-Nya atau menyimpan permusuhan di hati.
Syaban juga menjadi momentum memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, seiring dengan perintah bershalawat yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam.
Amalan yang Dianjurkan di Bulan Syaban
Puasa sunnah menjadi amalan utama di bulan ini. Umat Islam dapat menjalankannya melalui puasa Senin–Kamis, puasa Ayyamul Bidh, atau puasa pada hari Nisfu Syaban.
Syaban juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk mengqadha puasa Ramadan tahun sebelumnya agar tidak terbebani saat Ramadan tiba. Dalam mazhab Syafi’i, qadha puasa dapat digabungkan dengan niat puasa sunnah Syaban.
Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, serta beristighfar sebagai upaya membersihkan hati. Sedekah dan menjaga hubungan sosial juga menjadi amalan penting, terutama dengan menjauhi permusuhan dan memperbaiki hubungan antarsesama.
Hukum Puasa Setelah Nisfu Syaban
Terkait puasa sunnah setelah pertengahan Syaban, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian memakruhkannya, kecuali bagi mereka yang terbiasa berpuasa atau sedang mengganti puasa wajib.
Namun, mayoritas ulama membolehkan puasa setelah Nisfu Syaban selama memiliki alasan yang dibenarkan secara syariat.
Momentum Persiapan Menuju Ramadan
Masuknya Syaban 1447 H menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk mulai mempersiapkan diri secara menyeluruh. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Berbagai panduan dari Kementerian Agama, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama menekankan bahwa Syaban adalah waktu yang tepat untuk menata ulang ibadah, memperbaiki hubungan sosial, dan membersihkan hati.
Syaban bukan sekadar pengantar Ramadan, melainkan kesempatan berharga untuk kembali mendekat kepada Allah SWT sebelum bulan penuh rahmat itu tiba.














