JAKARTA, Cobisnis.com – Sebuah rumah kecil di kawasan Los Angeles sempat menjadi pusat kecurigaan aparat. Seorang pria bernama Mohammad Bzeek diketahui mengadopsi puluhan anak, namun hampir semuanya meninggal dunia tak lama kemudian.
Kecurigaan masyarakat pun bermunculan. Laporan masuk ke kepolisian, dan aparat mendatangi rumah tersebut dengan dugaan kemungkinan tindak kekerasan terhadap anak.
Namun, suasana yang ditemukan justru jauh dari bayangan awal. Tidak ada tanda kekerasan, tidak ada jeritan, hanya rumah sunyi dengan foto-foto anak terpajang di dinding.
Di balik kisah yang mengagetkan itu, terungkap fakta yang mengubah segalanya. Mohammad dan almarhum istrinya mengadopsi anak-anak dengan penyakit stadium akhir yang tak lagi memiliki harapan medis.
Anak-anak tersebut menderita kanker tulang, tumor otak, hingga distrofi otot. Banyak di antara mereka ditolak keluarga kandung atau tak tertampung fasilitas perawatan.
Saat rumah sakit kehabisan ruang dan keluarga menyerah, rumah Mohammad menjadi tempat terakhir mereka merasakan hidup sebagai anak-anak, bukan sebagai pasien.
Selama lebih dari dua dekade, Mohammad memberi mereka kasih sayang penuh. Ia menemani tidur, membacakan cerita, dan memastikan mereka tidak meninggal sendirian.
“Saya hanya ingin mereka merasakan cinta ayah dan ibu di saat terakhir,” ujar Mohammad dalam salah satu wawancara.
Anak terakhir yang ia rawat, Gabriel, dalam kondisi lumpuh dan buta, menghembuskan napas terakhir di pelukannya pada 2017. Mohammad menangis, namun mengaku hatinya tenang karena Gabriel pergi dengan senyum.
Kini, di usia 60-an, Mohammad masih membuka pintunya bagi anak-anak lain yang membutuhkan. Kisahnya kemudian menggetarkan dunia dan diangkat oleh media internasional seperti CNN hingga panggung TED Talk.














