JAKARTA, Cobisnis.com – Rusia tengah menghadapi salah satu bencana cuaca paling ekstrem dalam sejarah modernnya. Badai salju terparah dalam 60 tahun terakhir melanda wilayah Kamchatka dan melumpuhkan aktivitas masyarakat secara masif.
Ibu kota Kamchatka, Petropavlovsk-Kamchatsky, berubah drastis menjadi hamparan es dan salju tebal. Curah salju ekstrem membuat kota nyaris tak bisa berfungsi secara normal dalam beberapa pekan terakhir.
Pada awal Januari, akumulasi salju tercatat mencapai lebih dari 2 meter. Kondisi ini diperparah oleh tumpukan salju hampir 4 meter yang sudah lebih dulu menutup kota sepanjang Desember.
Gundukan salju raksasa menelan kendaraan yang terparkir di jalan maupun halaman rumah. Banyak mobil hanya menyisakan bagian atap, sementara akses jalan utama tertutup total.
Tak hanya transportasi, pintu-pintu gedung perkantoran dan permukiman warga ikut terblokir. Warga terpaksa menggali salju secara manual demi bisa keluar dari rumah mereka.
Aktivitas ekonomi lokal ikut terganggu. Sekolah ditutup, layanan publik dibatasi, dan distribusi logistik mengalami hambatan serius akibat akses yang terputus.
Pemerintah setempat mengerahkan alat berat dan tim darurat untuk membersihkan salju. Namun, intensitas badai yang terus berlanjut membuat proses evakuasi berjalan lambat.
Situasi ini menyoroti tantangan besar bagi ketahanan infrastruktur di wilayah beriklim ekstrem. Sistem transportasi dan fasilitas umum terbukti rentan saat menghadapi cuaca di luar perkiraan normal.
Para ahli cuaca menilai badai ini sebagai anomali iklim yang jarang terjadi. Pola cuaca ekstrem dinilai semakin sering muncul seiring perubahan iklim global.
Bencana ini menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan warga dan stabilitas sosial.














