JAKARTA, Cobisnis.com – Pernah merasa sudah terbangun dari tidur, melihat sekitar, bahkan mulai beraktivitas, lalu tiba-tiba sadar kalau semua itu hanya mimpi. Kondisi tersebut dikenal sebagai false awakening.
False awakening merupakan pengalaman tidur di mana seseorang bermimpi seolah-olah sudah bangun, padahal tubuhnya masih berada dalam kondisi tidur. Karena terasa sangat nyata, banyak orang sulit membedakan apakah mereka benar-benar sudah terjaga atau masih bermimpi.
Fenomena ini tergolong cukup umum dan bisa dialami oleh siapa saja.
Apa yang Dimaksud False Awakening
False awakening adalah mimpi tentang bangun tidur. Otak menciptakan situasi yang menyerupai kondisi setelah terjaga, seperti bangun dari tempat tidur, melihat kamar, atau menjalani rutinitas pagi. Kesadaran biasanya baru muncul ketika seseorang benar-benar terbangun dan menyadari bahwa pengalaman sebelumnya hanyalah mimpi.
Karena detailnya sangat mirip dengan kehidupan nyata, false awakening sering menimbulkan kebingungan.
Penyebab Terjadinya False Awakening
False awakening umumnya terjadi saat fase tidur REM atau rapid eye movement. Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan mimpi terasa lebih jelas, sementara tubuh masih dalam keadaan tidur.
Jika tidur tidak nyenyak atau sering terbangun di malam hari, otak bisa menciptakan sensasi seolah-olah sudah bangun. Hal inilah yang memicu false awakening.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain:
tidur tidak berkualitas
sering terbangun di malam hari
kurang tidur
stres atau pikiran yang terlalu aktif
perubahan pola atau jadwal tidur
Ciri-ciri False Awakening
Beberapa tanda yang sering dialami saat false awakening meliputi:
merasa sudah bangun dari tidur
melihat lingkungan yang tampak nyata
melakukan aktivitas ringan seperti duduk atau berjalan
muncul rasa bingung atau aneh
baru sadar masih bermimpi setelah terbangun kembali
Pada sebagian orang, false awakening bisa terjadi berulang kali, seperti merasa bangun beberapa kali berturut-turut padahal masih berada dalam mimpi.
Kaitannya dengan Mimpi Lucid
False awakening memiliki hubungan dengan mimpi lucid atau lucid dreaming. Dalam beberapa kasus, seseorang menyadari bahwa dirinya masih bermimpi saat mengalami false awakening. Kesadaran ini dapat mengubah mimpi tersebut menjadi mimpi lucid, di mana seseorang tahu bahwa ia sedang bermimpi dan dapat mengendalikan mimpi itu.
Namun, tidak semua orang mengalami hal ini. Banyak yang baru menyadari false awakening setelah benar-benar terbangun.
Apakah False Awakening Berbahaya
Secara umum, false awakening tidak berbahaya dan bukan tanda gangguan medis serius. Meski begitu, jika terjadi terlalu sering, kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur dan membuat tubuh terasa lelah.
Beberapa dampak yang mungkin dirasakan antara lain:
tidur terasa tidak menyegarkan
bangun dalam kondisi lelah
kebingungan membedakan mimpi dan kenyataan sesaat setelah bangun
konsentrasi menurun di siang hari
Cara Mengurangi False Awakening
Untuk membantu mengurangi kemungkinan terjadinya false awakening, beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:
menjaga jadwal tidur tetap teratur
mencukupi kebutuhan tidur
menghindari penggunaan gawai sebelum tidur
menciptakan suasana kamar yang nyaman
mengelola stres dengan baik
Kualitas tidur yang baik berperan penting dalam menjaga keseimbangan kerja otak selama tidur.
False awakening adalah pengalaman merasa sudah bangun tidur padahal masih bermimpi. Meski terasa nyata dan membingungkan, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat diminimalkan dengan menjaga kualitas tidur.














