JAKARTA, Cobisnis.com – Pejabat senior Rusia Leonid Slutsky memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan intervensi militer terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut berisiko besar dan dapat mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah secara luas.
Slutsky, yang menjabat sebagai Ketua Komite Urusan Internasional di majelis rendah parlemen Rusia, menyebut serangan terhadap Teheran sebagai kesalahan fatal bagi Washington. Ia menilai agresi militer justru akan memperburuk situasi geopolitik dan berdampak negatif pada pasar komoditas global.
“Jika Gedung Putih memutuskan melakukan agresi terhadap Iran, itu akan menjadi kesalahan terbesar Amerika Serikat,” ujar Slutsky dalam pernyataannya yang dikutip media Rusia.
Ia juga menuding kepentingan ekonomi, khususnya sektor energi, mendorong sikap Amerika Serikat yang dinilai tidak memperhitungkan dampak regional. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menghancurkan stabilitas kawasan secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Slutsky mengklaim bahwa gelombang protes yang terjadi di Iran tidak murni berasal dari dinamika domestik, melainkan dipicu oleh campur tangan kekuatan asing yang mendorong perubahan rezim. Ia menuding politisi Barat secara tidak langsung mendukung aksi-aksi jalanan dengan menyerukan penggulingan pemerintahan yang sah.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat diketahui telah menarik sebagian personel militernya dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar. Langkah ini dilakukan seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan opsi tindakan terhadap Iran terkait penanganan keras terhadap demonstran.
Pemerintah Qatar menyebut penyesuaian tersebut sebagai respons atas meningkatnya ketegangan regional. Pangkalan Al-Udeid sendiri merupakan basis militer terbesar AS di Timur Tengah, dengan sekitar 10.000 personel Amerika dan ratusan staf Inggris yang biasanya ditempatkan di lokasi tersebut.
Sementara itu, Trump mengklaim telah menerima laporan dari sumber terpercaya bahwa pembunuhan di Iran telah berhenti dan tidak ada rencana eksekusi lanjutan. Meski demikian, organisasi pemantau hak asasi manusia HRANA melaporkan bahwa hingga kini lebih dari 2.400 demonstran tewas, termasuk anak-anak, serta puluhan ribu lainnya ditangkap selama kerusuhan berlangsung.














