JAKARTA, Cobisnis.com – Ajang Golden Globes tahun ini menandai perubahan besar dalam cara para bintang Hollywood berpakaian di karpet merah. Jika dalam beberapa tahun terakhir gaun vintage terbaik atau busana “viral” bernuansa meme dianggap sebagai pencapaian tertinggi, kini para aktor justru tampil dengan busana yang berbicara tentang masa kini lebih nyata, lebih relevan, dan terasa dekat dengan kehidupan modern.
Selama ini, gaun vintage atau busana yang menghidupkan kembali momen ikonik masa lalu menjadi kartu truf utama di Hollywood. Gaya tersebut menandakan keseriusan seseorang sebagai pemain mode, bukan hanya seniman. Namun, tren ini juga membuat dunia mode terjebak dalam nostalgia, terlalu sibuk mereplikasi masa lalu ketimbang menciptakan sesuatu yang baru.
Ketika tidak bernuansa nostalgia, karpet merah justru dipenuhi busana ekstrem dengan warna mencolok, siluet berlebihan, dan detail yang terkesan dibuat hanya demi viral. Pakaian semacam ini memicu perdebatan panjang di media sosial, namun perlahan mengaburkan makna glamor dan keindahan itu sendiri.
Di tengah menurunnya daya magis Hollywood dan naiknya popularitas selebritas influencer, publik semakin kehilangan gambaran tentang seperti apa glamor modern seharusnya terlihat. Golden Globes, sebagai penanda awal musim penghargaan, menjadi momen penting ketika para aktor, desainer, dan stylist mulai berbicara tentang nilai visual zaman sekarang.
Beberapa penampilan menonjol mencerminkan perubahan tersebut. Renate Reinsve tampil dalam gaun Louis Vuitton dengan rumbai manik-manik sepanjang lantai yang bergerak bebas, menampilkan sosok perempuan yang dinamis. Tessa Thompson mengenakan gaun chartreuse hangat rancangan Balenciaga yang terlihat elegan, modern, dan jarang terjadi terkesan nyaman.
Pernyataan politik memang tidak mendominasi, namun Thompson terlihat menyematkan pin “Be Good” sebagai bentuk solidaritas atas kasus kemanusiaan yang terjadi di Amerika Serikat. Sementara itu, Ayo Edebiri tampil berani dalam gaun beludru hitam Chanel yang sederhana namun penuh sikap, menghadirkan definisi baru tentang keren tanpa harus berlebihan.
Zoey Deutch memilih gaun Prada berlipit dengan sentuhan Art Deco yang anggun tanpa terjebak kostum masa lalu. Jennifer Lawrence kembali dengan “naked dress”, namun kali ini terasa segar dan penuh kebebasan, mencerminkan gagasan modern bahwa perempuan berhak mengenakan apa pun yang mereka inginkan tanpa terikat penilaian publik. Emma Stone pun tampil santai namun berkelas dalam atasan crop top formal rancangan Louis Vuitton.
Namun, sorotan utama jatuh pada Teyana Taylor. Mengenakan gaun haute couture Schiaparelli berwarna hitam dengan detail berani, Taylor menampilkan keseimbangan sempurna antara selera tinggi dan keberanian ekstrem. Penampilannya dinilai sebagai representasi baru seperti apa seharusnya seorang bintang film tampil di era sekarang aneh, kuat, dan memikat.
Golden Globes tahun ini seolah menegaskan bahwa busana bukan lagi sekadar nostalgia atau sensasi, melainkan cerminan jujur dari zaman modern dan kebebasan berekspresi.














