JAKARTA, Cobisnis.com – Sastra memiliki peran penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Melalui cerita, puisi, maupun drama, sastra mampu menyampaikan nilai moral yang membentuk kepribadian individu. Dari nilai tersebut, tercipta karakter yang menjadi fondasi bangsa.
Karya sastra bukan hanya hiburan, tetapi juga cermin kehidupan masyarakat. Kisah yang dituturkan sering kali mengandung pesan tentang kejujuran, keberanian, dan kasih sayang. Pesan inilah yang perlahan membentuk cara pandang dan perilaku pembacanya.
Selain nilai moral, sastra juga mengajarkan identitas budaya. Bahasa, adat, dan tradisi yang tergambar dalam karya sastra menjadi pengingat akan akar bangsa. Hal ini penting agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya.
Sastra juga berperan dalam menumbuhkan rasa empati. Dengan membaca kisah orang lain, pembaca bisa memahami perasaan yang berbeda dari dirinya. Kemampuan merasakan penderitaan atau kebahagiaan orang lain adalah dasar dari karakter yang humanis.
Sejak zaman dahulu, banyak tokoh bangsa yang menggunakan sastra sebagai alat perjuangan. Melalui puisi, prosa, dan cerita, mereka menyebarkan semangat nasionalisme. Ini membuktikan bahwa sastra mampu memengaruhi kesadaran kolektif suatu bangsa.
Di era modern, sastra tetap relevan sebagai media pendidikan karakter. Sekolah-sekolah menggunakan cerita rakyat maupun karya sastra modern untuk mengajarkan nilai kebaikan. Dengan begitu, sastra terus berperan dalam mendidik generasi penerus.
Tantangan saat ini adalah bagaimana menjaga minat baca di tengah derasnya arus digital. Jika sastra tidak diperkenalkan dengan cara yang menarik, generasi muda bisa melupakannya. Padahal, sastra adalah salah satu kunci dalam membentuk karakter bangsa.
Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian dan pengembangan karya sastra. Dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, hingga komunitas sangat dibutuhkan. Dengan demikian, sastra tetap hidup dan terus memberi warna pada kepribadian bangsa.
Secara keseluruhan, peran sastra dalam membentuk karakter bangsa sangat besar. Ia bukan hanya tentang tulisan, tetapi tentang bagaimana kata-kata mampu membentuk jiwa, identitas, dan arah suatu bangsa.














