JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono buka suara terkait produk udang beku yang diproses oleh perusahaan asal Indonesia, PT Bahari Makmur Sejati atau BMS Food terkontaminasi Cs-137 saat masuk ke Amerika Serikat (AS).
Trenggono menjelaskan, sedikitnya ada empat kontainer produk udang beku yang terkontaminasi Cs-137 alias isotop radioaktif cesium.
“Ada empat kontainer yang masuk ke AS itu ditengarai ada Cs-137, Cs-137 itu konon ceritanya adalah radio aktif,” ujar Trenggono, Rabu, 20 Agustus.
Dia mengklaim, pihaknya bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sudah melakukan pengecekan dari hulu. Akan tetapi, saat sampai ke pabrik, kata dia, pihaknya menemukan produk udang beku itu terkena pencemaran udara.
“Nah kami lakukan checking pertama dari sumber dulu, dari tambak, dari tambak tidak ada apa-apa. Terus kemudian baru kami masuk ke pabrik gitu. Nah, begitu kami masuk ke pabrik ditemukannya itu justru ada di tempat exhaust di atas, di tempat atas itu kena. Jadi, itu artinya kena cemaran udara gitu, loh,” kata dia.
Menurut Trenggono, di sekitar PT Bahari Makmur Sejati itu memang terdapat pabrik peleburan baja. Dia menilai, produk udang beku yang diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati terpapar cemaran dari pabrik tersebut.
“Di situ, tuh, ada dua pabrik, ya. Ada pabrik sepatu, ada pabrik udang. Pabrik sepatu juga sama ditengarai (terkena cemaran saat masuk) di Belanda ditolak kalau ada Cs-137 itu. Nah, ternyata di samping kiri kanan di situ, tuh, ada peleburan baja,” ucap Trenggono.
Untuk itu, Trenggono mengaku, pihaknya sudah menyampaikan hal tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). “Sudah ada tiga yang ditutup dan hari ini saya dengar katanya ada 10 ditutup,” terangnya.
Lebih lanjut, Trenggono pun membantah bahwa pihaknya sudah lalai dalam hal pengawasan. “Bukan (lemah pengawasan) dong, bukan. Kami ketat pengawasannya, tapi kalau radio aktif kami nggak punya alatnya,” ucap Trenggono.
“Makanya kami libatkan (Bapeten), itu ditemukan radio aktif bukan yang lain. Kalau ada misalnya virus atau apa itu tanggung jawab kami di situ,” sambungnya.
Ke depan, lanjut dia, KKP akan intensif menangani persoalan tersebut bersama dengan Menteri Perindustrian dan Menteri Lingkungan Hidup agar tidak terulang lagi.
“Kami akan tangani bersama dengan Menteri Perindustrian, Menteri Lingkungan Hidup. Dengan KLH intens, itu sudah beberapa pabrik baja di lingkungan wilayah situ sudah ditutup oleh KLH. Tentu akan bernegosiasi juga lah,” jelas Trenggono.
“Kan, hanya empat sebetulnya kontainer itu. Empat kontainer itu, lah, yang kemungkinan akan dikembalikan. Jadi, maksud saya kasihan juga, ya, BMS-nya itu. Makanya bukan salah BMS, kalau dari udara sulit juga itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperingatkan konsumen untuk tidak mengonsumsi produk udang beku merek Great Value yang dijual di Walmart.
Peringatan itu muncul setelah otoritas kepabeanan AS mendeteksi adanya kontaminasi isotop radioaktif Cesium-137 (Cs-137) dalam kontainer pengiriman udang yang berasal dari Indonesia.
FDA menyampaikan, kontaminasi terdeteksi oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) di empat pelabuhan utama, yakni Los Angeles, Houston, Savannah dan Miami. Kontainer yang positif mengandung Cs-137 langsung ditolak masuk ke Amerika Serikat.
Meski FDA menegaskan belum ada konfirmasi adanya kontaminasi langsung pada produk udang komersial di pasar AS, badan itu mengatakan, kemungkinan produk telah disiapkan, dikemas atau disimpan dalam kondisi tidak higienis yang membuka peluang paparan isotop radioaktif.
“Jika Anda baru saja membeli udang beku mentah dari Walmart sesuai dengan deskripsi ini, buanglah. Jangan makan atau sajikan produk ini,” tulis FDA dalam pernyataannya, dikutip dari laman resmi fda.gov, Rabu, 20 Agustus.
Menurut FDA, meskipun paparan Cs-137 terbatas, dapat meningkatkan risiko kanker akibat kerusakan DNA dalam sel-sel tubuh. FDA menilai, meski kadar isotop terdeteksi masih berada di bawah tingkat kekhawatiran, penarikan produk dilakukan untuk menghindari paparan dosis rendah yang bisa terakumulasi dalam jangka panjang.














