Cobisnis.com – ASEAN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya integrasi digital yang berpotensi menghasilkan peningkatan GDP negara-negara di kawasan yang diprediksi mencapai US $1 triliun di tahun 2025. Inilah topik yang sedang marak dibahas para pembuat kebijakan, akademisi, dan pakar industri tentang konektivitas digital ASEAN yang terbangun saat ini. Termasuk segala tantangan dan potensi untuk meningkatkan digitalisasi Asia Tenggara.
“Saya melihat konektivitas dan transformasi digital sebagai prioritas utama dan menjadi isu bersama yang saling terkait dan memengaruhi ekonomi semua sektor. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan pendekatan atau respon dan partisipasi dari multi-stakeholder, termasuk sektor swasta seperti Huawei,” kata Aladdin D. Rillo, Deputy Secretary-General for ASEAN Economic Community, dalam panel Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang berkolaborasi dengan Huawei Indonesia, Kamis (10 Desember 2020).
ASEAN, kata Rillo, membutuhkan kontribusi dari seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari negara, akademik, hingga sektor swasta – termasuk perusahaan seperti Huawei – untuk menjawab sejumlah kebutuhan yang menjadi prioritas negara di kawasan serta memastikan keberlangsungan transformasi digital.
Termasuk di dalamnya mengembangkan keterampilan digital, mendorong terwujudnya tata kelola data digital, memperkuat keamanan siber dan meningkatkan konektivitas digital.
“Ini semua dapat dituntaskan melalui pertukaran data guna memandu dalam penyusunan kebijakan dan pelayanan publik, serta melalui penyediaan beragam solusi digital untuk tujuan membangun resiliensi,” ujar Rillo.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Rizal Affandi Lukman, mengatakan transformasi ekonomi digital menjadi variabel kunci bagi ASEAN dalam skenario pemulihan pasca pandemi. Transformasi ditandai dengan digitalisasi di berbagai sektor, baik ekonomi, reformasi struktural, dan pembangunan yang inklusif.
“Pendekatan transformasional tersebut dibutuhkan untuk memastikan makin banyaknya peluang kerja yang tercipta dan makin besarnya kapasitas ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Rizal.
Deputi Menteri Koordinator Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Odo Manuhutu, memaparkan hikmah lain di balik pandemi yakni lebih dari 3,2 juta usaha mikro, kecil dan menengah (UKM) beralih ke digital yang melibatkan lebih dari 11,2 juta tenaga kerja.
“Seiring dengan tren yang makin mengarah ke budaya belanja daring, teknologi juga akan terus mendorong industri untuk bergabung dengan ekosistem digital guna menjangkau pasar konsumen yang lebih luas,” ujarnya.
VP Huawei Asia Pasifik, Jay Chen, sepakat menyatakan peningkatan pengetahuan, teknologi dan data, serta terwujudnya integrasi digital akan turut mendukung negara ASEAN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan. Sekaligus membuka pintu bagi ASEAN agar makin solid sebagai kekuatan ekonomi yang sesungguhnya dan otonom di kancah perekonomian digital dunia.
“Sebagai penyedia infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi serta perangkat-perangkat cerdas terkemuka global, Huawei berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama dengan para mitranya di seluruh dunia dalam rangka mendukung ASEAN melalui inisiatif-inisiatif yang digelar untuk tujuan transformasi dan integrasi kawasan,” ujar Jay Chen.














