JAKARTA, Cobisnis.com – Kemajuan teknologi membuat informasi dan ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, tetapi kemudahan tersebut tidak otomatis menjamin seseorang memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan mengelola uang, terutama ketika pengeluaran untuk hiburan dan gaya hidup tidak seimbang dengan pemasukan.
Dikutip dari kanal YouTube Pertajam Pola Pikir, Rabu (14/10/2026), terdapat sejumlah kebiasaan yang dinilai dapat menghambat Gen Z dalam membangun kondisi keuangan yang sehat.
Kebiasaan pertama adalah kecanduan judi online yang dapat membuat seseorang terus mengeluarkan uang karena berharap mendapatkan kemenangan setelah mengalami kekalahan.
Alih-alih memperoleh keuntungan, pemain justru berisiko kehilangan uang dalam jumlah besar, bahkan terjerat utang demi terus bermain.
Kebiasaan kedua adalah top up game secara berlebihan, terutama ketika pembelian item atau skin dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.
Pengeluaran tersebut berbeda dengan modal usaha karena manfaat ekonominya tidak otomatis kembali kepada pembeli, terlebih jika transaksi hanya dilakukan untuk kesenangan pribadi.
Kebiasaan ketiga adalah self reward yang dilakukan terlalu sering hingga menjadi alasan untuk terus berbelanja setelah menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi situasi sulit.
Memberi penghargaan kepada diri sendiri sebenarnya tidak selalu bermasalah, tetapi pengeluaran perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan agar tidak mengganggu kebutuhan utama.
Selain itu, normalisasi gaya hidup boros juga dapat membuat seseorang menganggap pengeluaran yang tidak diperlukan sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika kebiasaan tersebut terus berulang, seseorang berisiko kesulitan mengevaluasi pengeluarannya dan justru menyalahkan keadaan ketika uang mulai habis.
Media sosial turut berperan dalam membentuk standar gaya hidup, mulai dari pilihan pakaian, sepatu, hingga tempat nongkrong yang dianggap sesuai dengan kelompok pergaulan tertentu.
Keinginan mengikuti tren dan memenuhi ekspektasi sosial dapat mendorong Gen Z membeli barang di luar kemampuan finansialnya.
Meski begitu, kesulitan ekonomi tidak bisa dijelaskan hanya melalui kebiasaan belanja karena faktor lain, seperti kesempatan kerja, tingkat pendapatan, dan kondisi ekonomi, juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Untuk memperbaiki pengelolaan keuangan, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menyisihkan uang untuk tabungan segera setelah menerima pemasukan.
Sebagai contoh, seseorang yang memperoleh Rp1 juta dapat menetapkan sebagian uangnya untuk ditabung terlebih dahulu, lalu mengatur sisa dana untuk kebutuhan sehari-hari sesuai kemampuan.
Langkah berikutnya adalah mencatat pengeluaran secara rutin agar terlihat jelas ke mana uang digunakan dan bagian mana yang sebenarnya bisa dikurangi.
Penghematan tetap perlu dilakukan secara realistis tanpa mengorbankan kebutuhan dasar, kesehatan, maupun hal-hal yang menunjang produktivitas.
Selain itu, pengendalian diri menjadi bagian penting dalam mengelola keuangan karena tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.
Sebelum membeli barang, seseorang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah sesuai anggaran, dan apakah pembeliannya berpotensi mengganggu kebutuhan lain.
Jika ingin membeli barang yang harganya cukup tinggi, menabung terlebih dahulu dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan mengandalkan paylater atau pinjaman online untuk memenuhi keinginan konsumtif.
Mencari penghasilan tambahan juga dapat dipertimbangkan sesuai kemampuan, tetapi tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan pengeluaran yang disiplin.
Pada akhirnya, membangun kondisi keuangan yang lebih baik tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga pada kebiasaan mengatur, menggunakan, dan menyimpan uang secara bijak.













