JAKARTA, Cobisnis.com – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meraih penghargaan ASEAN Energy Awards (AEA) 2026 kategori On Grid atas inovasi dan implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada fasilitas bangunan pendukung perusahaan. Penghargaan tersebut diterima Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, di Manila, Filipina, Rabu (7/10/2026).
ASEAN Energy Awards merupakan ajang penghargaan tingkat Asia Tenggara yang memberikan pengakuan terhadap proyek dan inisiatif unggulan di bidang energi. Tahun ini, penyelenggaraan AEA menjadi bagian dari rangkaian ASEAN Energy Business Forum 2026 (AEBF-26).
Maslani mengungkapkan, inovasi PLTS Atap digagas sebagai bagian dari komitmen Perusahaan dalam mendorong transisi energi dan dekarbonisasi industri. Proyek ini merepresentasikan upaya Pupuk Kaltim mengintegrasikan energi baru terbarukan (EBT) ke dalam operasional industri secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
Menurutnya, transisi energi bukan sekadar upaya menekan emisi, tetapi juga strategi untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
“Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri,” ujar Maslani.
Ia menjelaskan, pengembangan energi terbarukan merupakan bagian dari komitmen Pupuk Kaltim dalam mendukung target Second Nationally Determined Contribution (SNDC) sektor industri menuju Net Zero Emission (NZE) 2050. Komitmen tersebut diwujudkan melalui strategi keberlanjutan yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni efisiensi energi, pengurangan dan penangkapan emisi (emission reduction/capture), serta pemanfaatan EBT.
Dalam implementasinya, Pupuk Kaltim mengintegrasikan PLTS Atap secara bertahap di area nonpabrik dan pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG). Pengembangan ini menjadi bagian dari peta jalan keberlanjutan Perusahaan untuk mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam jangka panjang.
Hingga saat ini, total kapasitas terpasang PLTS Atap Pupuk Kaltim mencapai 3,8 megawatt peak (MWp), terdiri atas Fase 1 sebesar 1,2 MWp dan Fase 2 sebesar 2,6 MWp. Sistem tersebut memiliki availability factor sebesar 98–98,6 persen, dengan total produksi energi mencapai 4.723.458 kilowatt-hour (kWh) per tahun.
“Capaian ini menunjukkan bahwa energi surya dapat menjadi bagian dari sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan yang tinggi,” lanjut Maslani.
Pupuk Kaltim juga memperluas pemanfaatan energi surya melalui pengembangan ekosistem EBT yang terintegrasi. Salah satu upayanya adalah memanfaatkan energi tersebut untuk mendukung operasional kendaraan listrik (electric vehicle), selain memenuhi kebutuhan internal fasilitas Perusahaan.
Integrasi ini diharapkan dapat memperluas manfaat energi terbarukan sekaligus mendukung elektrifikasi transportasi operasional. Dengan demikian, pemanfaatan energi bersih dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi biaya.
“Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik,” terang Maslani.
Dari aspek lingkungan, implementasi PLTS Atap selama periode 2022–2025 berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 10.702,38 ton CO₂ ekuivalen. Upaya pengurangan emisi juga diperkuat melalui pengalihan penggunaan bus konvensional menjadi bus listrik yang memanfaatkan energi dari PLTS. Inisiatif ini berhasil menghemat bahan bakar minyak (BBM) sebesar 3.945,46 liter dan menekan emisi hingga 0,45 ton CO₂.
Manfaat proyek ini juga mencakup aspek sosial dan pengembangan kapasitas masyarakat. Pupuk Kaltim melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses konstruksi, menyelenggarakan sharing knowledge terkait teknologi surya, memberikan pelatihan Operation and Maintenance (O&M) bagi mahasiswa, hingga menerapkan PLTS di kawasan pesisir Bontang untuk mendukung kebutuhan permukiman nelayan.
“Dengan demikian, energi tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional industri, tetapi juga membuka peluang peningkatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal,” ungkap Maslani.
Dari sisi teknis dan ekonomi, Pupuk Kaltim juga mengembangkan kolaborasi dengan anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup yang memiliki Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL). Kolaborasi tersebut dikembangkan melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara lebih luas.
Inisiatif ini menghasilkan penghematan energi sekitar 20 persen, setara dengan 5.815.575 kWh, serta estimasi penghematan biaya operasional tahunan sekitar USD 29.800. Efisiensi tersebut didukung pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan operasional dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik.
Maslani menegaskan, pencapaian pada ASEAN Energy Awards 2026 menjadi dorongan bagi Pupuk Kaltim untuk terus memperkuat inovasi dan kolaborasi dalam penerapan energi bersih. Ke depan, Perusahaan akan terus mendorong pemanfaatan EBT yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, dengan mempertimbangkan aspek keandalan, efisiensi ekonomi, pengurangan emisi, dan manfaat sosial.
“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa transformasi menuju industri yang lebih hijau membutuhkan konsistensi, inovasi, dan kolaborasi. Pupuk Kaltim akan terus mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan Perusahaan,” tutup Maslani.













