JAKARTA, Cobisnis.com – Membaca buku bukan sekadar cara memperoleh informasi dan pengetahuan. Kebiasaan tersebut juga dikaitkan dengan berbagai manfaat bagi otak, kemampuan berpikir, serta kondisi mental.
Sejumlah penelitian dalam jurnal Psychological Medicine mengulas keterkaitan aktivitas membaca dengan kesehatan otak, kemampuan kognitif, kesejahteraan, dan kesehatan mental.
Peneliti dari University of Cambridge menemukan bahwa orang yang memiliki kebiasaan membaca cenderung menunjukkan kemampuan kognitif yang lebih baik. Aktivitas membaca juga berkaitan dengan kondisi mental yang lebih baik dan kemungkinan penurunan fungsi kognitif yang lebih rendah.
Profesor Barbara Sahakian dari Department of Psychiatry, University of Cambridge, yang turut menjadi penulis tinjauan penelitian tersebut, menyebut membaca memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan otak dan kesejahteraan.
“Membaca adalah cara yang sangat baik untuk mendukung kesehatan otak, mengembangkan keterampilan kognitif yang penting, serta meningkatkan kesejahteraan kita,” kata Sahakian dikutip dari berbagai sumber, Kamis (1/10/2026).
Berikut beberapa manfaat membaca yang dikaitkan dengan hasil penelitian:
1. Membantu mengurangi stres
Meluangkan waktu untuk membaca dapat menjadi salah satu cara mengalihkan perhatian dari aktivitas dan tekanan sehari-hari.
Dalam salah satu survei yang dibahas pada tinjauan penelitian, membaca selama enam menit dikaitkan dengan penurunan tingkat stres hingga 68 persen.
Sementara itu, studi ilmu saraf pada 2024 yang dirangkum University of Cambridge menemukan bahwa membaca fiksi selama lima menit berkaitan dengan penurunan stres hingga 20 persen.
Namun, hasil penelitian tersebut tidak dapat dimaknai bahwa membaca dalam durasi tertentu akan selalu mengurangi stres setiap orang. Sebagian penelitian masih menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat.
2. Membantu menjaga kemampuan kognitif
Aktivitas membaca membuat otak bekerja melalui berbagai tahapan. Pembaca perlu memproses bahasa, menyimpan informasi, memahami alur, dan menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya.
Karena itu, sejumlah penelitian mengaitkan kebiasaan membaca dengan kemampuan perhatian, memori, dan fungsi eksekutif yang lebih baik.
Studi yang melibatkan lebih dari 10.000 anak dan remaja di Amerika Serikat juga menemukan hubungan antara kebiasaan membaca untuk kesenangan sejak usia dini dengan hasil yang lebih baik dalam sejumlah tes kognitif.
Mereka juga dilaporkan memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik.
3. Mendukung kesehatan otak
Kebiasaan membaca juga dikaitkan dengan perbedaan pada sejumlah bagian otak yang berperan dalam kemampuan berbahasa, proses belajar, pengaturan emosi, dan fungsi eksekutif.
“Membaca adalah cara yang sangat baik untuk mendukung kesehatan otak kita,” ujar Sahakian.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa sebagian besar temuan yang ada masih bersifat asosiasi. Karena itu, hasil tersebut belum seluruhnya dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat.
4. Membantu mengenali perspektif orang lain
Membaca cerita, khususnya karya fiksi, dapat memperkenalkan pembaca pada pengalaman, kehidupan, dan cara pandang yang berbeda.
Dalam tinjauan penelitian tersebut, aktivitas membaca pada orang dewasa dikaitkan dengan tingkat empati yang lebih tinggi. Kebiasaan ini juga berhubungan dengan kemampuan memahami orang lain dan perspektif mereka.
Selain dilakukan secara individu, membaca juga dapat menjadi kegiatan sosial. Membaca bersama atau bergabung dalam klub buku dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.
Aktivitas tersebut juga berpotensi membantu mengurangi rasa kesepian serta memperkuat koneksi sosial.
5. Dikaitkan dengan risiko gangguan kognitif yang lebih rendah
Bagi kelompok usia lanjut, kegiatan yang melibatkan stimulasi otak, termasuk membaca, dikaitkan dengan perlambatan penurunan kemampuan kognitif.
University of Cambridge merangkum penelitian terhadap hampir 5.500 orang berusia 55 tahun ke atas. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang lebih sering melakukan aktivitas seperti membaca memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami gangguan kognitif selama lima tahun pemantauan.
Penelitian lain juga mengaitkan kebiasaan membaca koran, majalah, dan buku dengan risiko penyakit Alzheimer yang 33 persen lebih rendah.
Meski demikian, hasil tersebut tetap menunjukkan hubungan statistik. Temuan itu belum membuktikan bahwa aktivitas membaca secara langsung dapat mencegah demensia atau penyakit Alzheimer.













