JAKARTA, Cobisnis.com – Badan kurus tidak selalu berarti tubuh terbebas dari masalah kesehatan karena seseorang tetap dapat memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi.
Dikutip dari kanal YouTube KataDokterId, Jumat (25/9/2026), kondisi tersebut dikenal sebagai skinny fat atau dalam istilah medis disebut normal weight obesity.
Kondisi ini terjadi ketika seseorang memiliki indeks massa tubuh (IMT) dalam kisaran normal, tetapi persentase lemak tubuhnya tinggi dan massa ototnya rendah.
Secara tampilan, seseorang dengan skinny fat dapat terlihat kurus atau memiliki berat badan ideal, tetapi menyimpan lemak dalam jumlah tinggi di dalam tubuh.
Salah satu jenis lemak yang perlu diperhatikan adalah lemak visceral, yaitu lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam tubuh.
Beberapa faktor dapat memicu kondisi tersebut, seperti pola makan tinggi kalori tetapi rendah protein, kurang aktivitas fisik, massa otot yang rendah, terlalu banyak mengonsumsi makanan ultra-proses dan minuman manis, serta diet ketat yang dilakukan berulang kali.
Faktor usia dan hormonal serta genetik juga dapat berperan terhadap komposisi tubuh seseorang.
Rendahnya massa otot menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena otot berperan penting dalam metabolisme glukosa dan respons tubuh terhadap insulin.
Ketika massa otot berkurang, pengelolaan glukosa dalam tubuh dapat terganggu dan kondisi tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin.
Dalam pemeriksaan laboratorium, seseorang dengan skinny fat dapat menunjukkan kadar kolesterol atau gula darah yang lebih tinggi dari normal.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung, stroke, fatty liver, dan sindrom metabolik.
Karena itu, ukuran berat badan saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi kesehatan tubuh.
Konsultasi dengan dokter dapat dipertimbangkan ketika lingkar perut semakin besar, termasuk lebih dari 80 sentimeter pada perempuan atau 90 sentimeter pada laki-laki meskipun berat badan masih normal.
Keluhan seperti mudah lelah, stamina menurun, riwayat keluarga dengan diabetes atau penyakit jantung, serta hasil pemeriksaan kesehatan yang menunjukkan gula darah atau kolesterol tinggi juga perlu diperhatikan.
Untuk memperbaiki komposisi tubuh, fokusnya bukan sekadar menurunkan angka pada timbangan, tetapi meningkatkan massa otot sekaligus mengurangi lemak tubuh.
Latihan beban sebanyak 2 hingga 4 kali per minggu, olahraga kardio secara rutin, serta konsumsi protein sekitar 1 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari dapat menjadi bagian dari upaya tersebut sesuai kondisi masing-masing.
Pola makan juga perlu diperbaiki dengan mengurangi konsumsi gula berlebihan dan memperbanyak makanan utuh seperti sayuran, buah, sumber protein, biji-bijian utuh, serta lemak sehat.
Tidur selama 7 hingga 9 jam dan menghindari kebiasaan duduk terlalu lama juga menjadi bagian dari upaya menjaga komposisi tubuh.
Diet yang terlalu ketat juga dapat menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kehilangan massa otot, terutama jika tidak disertai latihan fisik.
Setelah diet ketat dihentikan, lemak tubuh dapat kembali meningkat sementara massa otot yang hilang belum tentu kembali dengan cepat.
Akibatnya, berat badan seseorang mungkin tetap berada dalam kisaran normal, tetapi persentase lemak tubuhnya meningkat.
Faktor genetik juga dapat memengaruhi metabolisme dan komposisi tubuh sehingga seseorang yang secara genetik cenderung bertubuh kurus tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan dari dalam.
Karena itu, tubuh yang tampak kurus, terutama jika disertai perut buncit, tetap perlu diperhatikan dan dapat diperiksa melalui konsultasi medis serta pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.













