JAKARTA, Cobisnis.com – Rasa gugup kerap dianggap sebagai penghambat ketika seseorang harus berbicara di depan orang lain. Padahal, rasa tersebut tidak selalu menjadi tanda seseorang tidak percaya diri.
Public speaking coach Eleonora Jessica atau JJ mengatakan, gugup justru dapat menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap apa yang ingin disampaikan dan bagaimana pesan tersebut diterima oleh orang lain.
“Padahal gugup adalah bentuk dari peduli. Gugup adalah bentuk dari peduli,” kata JJ, dikutip dari kanal Youtube SUARA BERKELAS, Minggu (27/9/2026).
Menurut JJ, hal yang perlu dilakukan bukan menghilangkan rasa gugup sepenuhnya, melainkan mengendalikannya. Salah satu caranya dengan mengubah pola pikir dari ingin terdengar pintar menjadi ingin terdengar jelas.
Dalam public speaking, JJ juga menyarankan seseorang tidak menghafalkan seluruh kalimat yang ingin disampaikan. Menurutnya, pembicara lebih baik mengingat pesan utama yang ingin disampaikan agar tidak mudah kehilangan arah ketika lupa satu bagian kalimat.
“Jangan menghafal kalimatnya, tapi hafal pesannya,” ujarnya.
Jeda dalam berbicara juga tidak perlu dianggap sebagai kesalahan. JJ menyebut jeda justru dapat digunakan sebagai kesempatan untuk berpikir dan membuat pesan yang disampaikan lebih terarah.
Selain itu, ketika gugup, seseorang disarankan menurunkan kecepatan berbicara sekitar 10 sampai 20 persen dari kecepatan yang biasanya dianggap diperlukan. Cara tersebut dapat membantu pembicara menyampaikan pesan dengan lebih jelas.
JJ juga menekankan pentingnya mengenali diri sendiri untuk membangun kepercayaan diri. Seseorang perlu mengetahui kelebihan yang dimiliki dan membangun keyakinan melalui pengalaman nyata, termasuk dengan terus mencoba.
Menurutnya, rasa takut tidak akan selalu hilang sebelum seseorang mulai bertindak. Karena itu, seseorang perlu tetap bergerak, berbicara dan mencoba meski rasa takut masih muncul.
“Jadi mulailah, bergeraklah, berbicaralah, cobalah walaupun kamu takut,” kata JJ.













