JAKARTA, Cobisnis.com – Konglomerat logistik Jerman Klaus-Michael Kühne meninggal dunia pada 24 Agustus 2026 di kediamannya di Schindellegi, Swiss, pada usia 89 tahun.
Kepergiannya tidak hanya mengakhiri perjalanan salah satu pengusaha berpengaruh di Eropa, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap pengelolaan kekayaannya.
Kühne diperkirakan meninggalkan kekayaan sebesar US$49 miliar atau sekitar Rp867 triliun.
Karena tidak memiliki anak, kekayaan tersebut telah lama dipersiapkan untuk dialihkan kepada Kühne Foundation yang didirikannya bersama orang tuanya pada 1976.
Kühne Foundation mengonfirmasi pendirinya meninggal setelah mengalami sakit berkepanjangan dan menyebut Kühne sebagai sosok yang membentuk perkembangan yayasan selama lima dekade.
Seluruh aset Kühne pada akhirnya akan dialihkan kepada yayasan, termasuk kepemilikan bisnis yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Melalui Kühne Holding AG, aset tersebut mencakup kepemilikan besar di Kühne+Nagel, Hapag-Lloyd, Lufthansa, Brenntag, Flix, dan Aenova, selain properti serta bisnis hotel.
Struktur kepemilikan tersebut berpotensi menjadikan Kühne Foundation sebagai salah satu organisasi filantropi dengan basis aset terbesar di Eropa.
Sebagian besar kekayaan Kühne berasal dari kepemilikannya di Kühne+Nagel, perusahaan logistik yang didirikan kakeknya, August Kühne, bersama Friedrich Nagel.
Kühne bergabung dengan perusahaan keluarga tersebut pada 1958 dan kemudian memainkan peran penting dalam ekspansi internasional perusahaan.
Kühne+Nagel kini mempekerjakan sekitar 88.000 orang dan memiliki lebih dari 1.300 lokasi di sekitar 100 negara.
Selain bisnis keluarga, Kühne membangun portofolio investasi di sektor transportasi Eropa, termasuk Hapag-Lloyd dan Lufthansa.
Ia juga pernah memiliki sekitar seperlima saham VTG, perusahaan penyewaan gerbong kereta terbesar di Eropa.
Kühne membeli saham VTG sekitar €160 juta pada 2016 dan menjualnya dua tahun kemudian dengan nilai sekitar €300 juta.








