JAKARTA, Cobisnis.com – Dokter satwa asal Uganda, Dr. Gladys Kalema-Zikusoka, menjadi sosok penting dalam upaya melindungi gorila gunung yang terancam punah. Ia memulai tugasnya sebagai dokter satwa liar pertama di Uganda pada 1996 saat berusia 26 tahun.
Sembilan bulan setelah mulai bekerja, penyakit kulit misterius menyerang populasi gorila gunung. Saat itu, spesies tersebut masih berstatus sangat terancam punah.
Kalema-Zikusoka melihat gorila kehilangan bulu dan mengalami kulit bersisik berwarna putih. Selain itu, hampir semua gorila terus menggaruk tubuhnya karena rasa gatal.
Ia kemudian meminta pendapat seorang rekannya yang berprofesi sebagai dokter. Rekannya menjelaskan bahwa gejala tersebut menyerupai kudis atau scabies, infeksi parasit akibat tungau yang sering muncul di komunitas dengan sanitasi buruk.
Setelah itu, Kalema-Zikusoka bersama timnya memeriksa kondisi para gorila. Mereka memastikan penyebab penyakit tersebut adalah scabies dan segera memberikan pengobatan.
Sebagian besar gorila berhasil pulih. Namun, seekor bayi gorila yang mengalami infeksi paling parah tidak dapat diselamatkan.
Sementara itu, tim peneliti menelusuri sumber penularan penyakit. Mereka menemukan tungau berasal dari pakaian kotor yang digunakan sebagai orang-orangan sawah di dekat kawasan taman nasional.
Temuan itu menunjukkan gorila tertular secara tidak langsung dari lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Karena itu, Kalema-Zikusoka menilai perlindungan satwa liar tidak cukup hanya berfokus pada hewan.
Selain merawat gorila, ia juga mendorong peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat satwa. Menurutnya, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan sehingga harus dijaga secara bersamaan.













