JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran telah memasuki bulan kelima tanpa tanda akan segera berakhir. Situasi yang terus memanas disebut mulai memengaruhi kondisi politik dan kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Laporan Wall Street Journal menyebut Trump kini semakin frustrasi terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah. Sejumlah pejabat Gedung Putih dan orang dekatnya menilai konflik berkepanjangan mulai menjadi beban politik bagi pemerintahannya.
Perang yang belum mereda dinilai berdampak pada berbagai sektor. Mulai dari kenaikan harga energi, penurunan tingkat kepuasan publik, hingga ancaman terhadap peluang Partai Republik pada pemilu paruh waktu mendatang.
Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump meyakini Iran hanya memahami pendekatan militer. Karena itu, pilihan untuk terus melanjutkan operasi militer disebut masih menjadi opsi utama pemerintah Amerika Serikat.
Di saat yang sama, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Penambahan pasukan dan persenjataan dilakukan meski muncul kekhawatiran mengenai tingginya biaya operasi serta berkurangnya dukungan publik.
Konflik tersebut juga dikabarkan mulai memengaruhi hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Hubungan keduanya disebut semakin renggang setelah berlangsungnya perang selama beberapa bulan terakhir.
Menurut seorang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya, Trump bahkan disebut enggan bertemu maupun berbicara dengan Netanyahu. Informasi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan dalam koordinasi kedua negara.
Di sisi lain, badan intelijen Amerika Serikat terus memberikan peringatan kepada Trump terkait ancaman pembunuhan yang diduga berasal dari Iran. Presiden Amerika Serikat juga disarankan membatasi penggunaan kendaraan tertentu demi alasan keamanan.
Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump disebut menerima informasi intelijen Israel mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap dirinya. Meski sebagian pejabat Amerika Serikat meragukan validitas informasi tersebut, Trump tetap mengambil langkah antisipasi dengan menggunakan pesawat Air Force One yang lebih lama.
Di tengah situasi tersebut, Trump juga dikabarkan tetap fokus menjaga stabilitas harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu. Pemerintahannya disebut masih berupaya menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan dampak ekonomi dan politik dari perang yang belum berakhir.













