JAKARTA, Cobisnis.com – Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dinilai belum cukup untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Penilaian itu disampaikan Alan Eyre, peneliti diplomatik senior di Middle East Institute sekaligus mantan anggota tim negosiasi kesepakatan nuklir Iran pada 2015.
Menurut Eyre, Selat Hormuz masih dipandang Iran sebagai aset strategis utama untuk menjaga posisi tawarnya di kawasan. Karena itu, Teheran diperkirakan tidak akan dengan mudah melepaskan kendali maupun pengaruhnya terhadap jalur pelayaran tersebut.
Ia menilai persoalan Selat Hormuz kini menjadi tantangan terbesar dalam setiap upaya diplomasi terkait program nuklir Iran. Selama isu tersebut belum menemukan titik temu, peluang tercapainya kesepakatan dinilai masih sangat kecil.
Eyre juga berpandangan bahwa operasi militer AS, meskipun terus dilakukan, tidak akan mampu menghilangkan secara signifikan potensi ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Menurutnya, Iran masih memiliki kemampuan militer yang cukup besar untuk mempertahankan daya gentarnya, termasuk persediaan rudal, pesawat nirawak (drone), dan berbagai jenis kapal maupun pesawat tempur berukuran kecil yang dapat digunakan untuk mengganggu aktivitas pelayaran.
Dengan kemampuan tersebut, Eyre menilai ancaman terhadap Selat Hormuz masih akan menjadi faktor penting dalam dinamika keamanan kawasan Timur Tengah serta hubungan antara Iran dan Amerika Serikat.













