JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Minyak mentah Brent bertahan di bawah US$80 per barel selama tiga hari beruntun. Kondisi ini mendekati level sebelum perang pecah di Timur Tengah.
Pada Kamis, harga Brent turun 2% ke sekitar US$78 per barel. Sementara itu, harga tersebut berada hampir US$35 di bawah puncak perang yang sempat menyentuh US$114,44 per barel.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak turun. Patokan minyak Amerika Serikat itu kini berada di kisaran US$74 per barel atau level terendah dalam tiga bulan.
Analis strategi Saxo, Neil Wilson, menilai harga minyak masih berpotensi turun. Namun, hal itu bergantung pada kelancaran kembali pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, minyak diperdagangkan di sekitar US$70 per barel. Bahkan, pada awal tahun, harganya masih berada di kisaran US$60 per barel.
Sementara itu, penurunan harga terjadi setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan proyeksi baru. Lembaga tersebut memperkirakan dunia dapat menghadapi surplus pasokan minyak jika perdamaian di Timur Tengah bertahan.
Menurut IEA, kondisi itu bisa memberi ruang bagi negara-negara untuk mengisi kembali cadangan energi mereka. Selain itu, pemerintah juga dapat memperkuat cadangan strategis sebagai bagian dari kebijakan energi jangka panjang.
Meski begitu, IEA memperkirakan permintaan minyak global akan turun tajam tahun ini. Lembaga yang berbasis di Paris tersebut kini memperkirakan permintaan minyak dunia menyusut 1,1 juta barel per hari. Angka itu hampir tiga kali lebih besar dibandingkan proyeksi yang dirilis sebulan lalu.
Karena itu, kombinasi melemahnya permintaan dan membaiknya pasokan berpotensi menekan harga minyak lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.













