JAKARTA, Cobisnis.com – Kabar bahwa Everlane akan dijual ke Shein memicu reaksi keras dari para pelanggan setianya. Menurut laporan media, nilai transaksi itu mencapai US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.
Selain itu, kesepakatan tersebut disebut akan menghapus utang Everlane yang mencapai US$90 juta. Namun, hingga kini Everlane, pemilik mayoritas L Catterton, dan Shein belum mengonfirmasi kabar tersebut.
Banyak pelanggan menilai langkah itu bertentangan dengan identitas Everlane. Sejak berdiri pada 2010, Everlane dikenal karena konsep “radical transparency.”
Perusahaan itu menjelaskan biaya produksi, asal bahan, dan lokasi pembuatan setiap produknya. Karena itu, banyak konsumen merasa lebih nyaman membeli pakaian baru tanpa rasa bersalah.
Di sisi lain, Shein sering menghadapi kritik terkait kualitas produk dan kondisi kerja. Perusahaan itu juga berulang kali dituduh menyalin desain milik merek independen.
Bahkan, Shein mengakui pada 2024 bahwa mereka menemukan dua kasus pekerja anak di rantai pasoknya. Menurut Shawn Grain Carter dari Fashion Institute of Technology, akuisisi ini sangat bermasalah.
Ia mengatakan fast fashion merupakan kebalikan dari prinsip keberlanjutan. Akibatnya, banyak pelanggan merasa Everlane telah mengkhianati nilai yang selama ini dijunjung.













