JAKARTA, Cobisnis.com – Burung Indonesia resmi merilis film dokumenter Jejak Wallacea dalam pemutaran yang digelar di CGV FX Sudirman, Selasa (6/5/2026). Film ini diproduksi bersama Arise! Indonesia dengan dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).
Film Jejak Wallacea mengangkat kisah masyarakat pesisir di wilayah Wallacea yang berupaya menjaga ekosistem laut dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom ikan, racun, hingga perburuan penyu dilindungi.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, masyarakat lokal memanfaatkan kearifan lokal dan hukum adat untuk menjaga keberlanjutan laut sebagai sumber penghidupan mereka. Namun, praktik perusakan lingkungan masih menjadi ancaman serius di kawasan tersebut.
Produser dan sutradara film, August Himmawan, menyebut proses produksi dilakukan dengan tantangan besar. “Tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di area konservasi, hingga naik bukit terjal ke desa adat,” ujarnya.
Sementara itu, Marine Specialist Burung Indonesia, Wahyu Teguh Prawira, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Wallacea II yang berfokus pada pengelolaan sumber daya pesisir berkelanjutan di tujuh koridor laut prioritas di Indonesia Timur.
Wilayah Wallacea dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, termasuk terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Kawasan ini menjadi habitat penting bagi ribuan spesies laut endemik dan dilindungi.
Meski demikian, ancaman terhadap ekosistem laut masih terus terjadi, terutama akibat praktik penangkapan ikan destruktif dan aktivitas di zona inti kawasan konservasi. Kondisi tersebut dinilai mengancam keberlangsungan habitat serta kehidupan masyarakat pesisir.
Melalui film ini, Burung Indonesia berharap semakin banyak pihak terlibat dalam mendukung konservasi laut berbasis masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut sebagai sumber kehidupan generasi mendatang.













