Kesepakatan ini mencakup transfer satu unit prototipe yang telah digunakan dalam berbagai uji penerbangan, termasuk pengisian bahan bakar di udara sebagai bagian dari pengujian kemampuan inti pesawat.
Nilai proyek ini mencapai sekitar 600 miliar won atau setara USD 398 juta, yang merupakan hasil penyesuaian kontribusi Indonesia dalam program pengembangan bersama tersebut.
Dari total nilai tersebut, sekitar 350 miliar won dialokasikan untuk pesawat, sementara sisanya digunakan untuk biaya pengembangan dan dukungan teknis.
Penyerahan akan dilakukan setelah Indonesia melunasi sisa pembayaran sebesar 64 miliar won. Hingga kini, pembayaran yang telah direalisasikan mencapai 536 miliar won.
Pelunasan ditargetkan selesai pada Juni, bertepatan dengan rampungnya fase pengembangan KF-21 yang telah berjalan sejak 2015.
KF-21 sendiri merupakan jet tempur generasi baru yang dikembangkan untuk menggantikan armada lama dan memperkuat kemampuan tempur modern.
Diproduksi oleh Korea Aerospace Industries, pesawat ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari pertempuran udara hingga serangan presisi.
Meski sempat terkendala keterlambatan pembayaran, proyek ini tetap berjalan setelah adanya penyesuaian kontribusi dan skema kerja sama.
Ke depan, Indonesia juga mempertimbangkan pembelian hingga 16 unit KF-21 versi produksi, yang berpotensi menjadi ekspor pertama bagi jet tempur tersebut.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat pertahanan nasional sekaligus mendorong perkembangan industri dirgantara dalam negeri.