JAKARTA, Cobisnis.com – China disebut memainkan peran kunci dalam menopang ekonomi Iran di tengah tekanan sanksi berat dan konflik yang dipicu Amerika Serikat.
Di saat banyak negara menarik diri, Beijing justru meningkatkan pembelian minyak Iran secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Data menunjukkan China membeli sekitar 1,4 juta barel minyak per hari dari Iran pada 2025, naik dua kali lipat dibandingkan 2017.
Lonjakan ini membuat China menjadi pembeli utama yang menyerap hampir seluruh produksi minyak Iran.
Namun, langkah tersebut tidak dilakukan secara terbuka. China dinilai berhati-hati agar tidak terlihat melanggar sanksi AS secara langsung.
Untuk menghindari pengawasan, transaksi dilakukan melalui skema rumit, termasuk manipulasi dokumen asal minyak.
Minyak Iran kerap dilabeli berasal dari negara lain seperti Oman atau Malaysia agar tidak terdeteksi.
Selain itu, digunakan juga armada “tanker bayangan” yang mematikan sinyal pelacakan dan melakukan transfer muatan di tengah laut.
Strategi ini memungkinkan distribusi minyak tetap berjalan tanpa terpantau sistem pengawasan internasional.
Di sisi domestik, China memanfaatkan kilang kecil independen atau “teapot” untuk menyerap minyak Iran dengan harga diskon.
Kilang ini lebih fleksibel dan tidak terlalu terpapar risiko sanksi dibanding perusahaan energi besar milik negara.
Transaksi keuangan pun dialihkan melalui bank kecil seperti Bank of Kunlun yang menggunakan yuan, bukan dolar AS.
Langkah ini mengurangi risiko terkena sistem keuangan global yang didominasi Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana kedua negara membangun jaringan alternatif untuk bertahan di tengah tekanan geopolitik.













