JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) berada dalam kondisi aman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Cadangan energi nasional saat ini disebut berada di atas batas minimal sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal tersebut setelah melaporkan kondisi energi nasional kepada Presiden Prabowo Subianto di Jakarta. Ia menegaskan bahwa stok BBM maupun LPG masih dalam kondisi mencukupi.
Menurut Bahlil, laporan tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar pada Jumat (13/3). Dalam kesempatan itu, pemerintah memaparkan kondisi cadangan sejumlah jenis BBM nasional.
Untuk BBM jenis khusus penugasan (JBKP) dengan RON 90, cadangannya tercatat sekitar 24,39 hari. Sementara itu, BBM jenis umum RON 92 memiliki cadangan sekitar 28 hari, dan RON 98 mencapai kurang lebih 31 hari.
Cadangan solar bersubsidi tercatat sekitar 16,41 hari. Sedangkan solar dengan cetane number (CN) 53 memiliki stok hingga sekitar 46 hari. Adapun bahan bakar pesawat atau avtur diperkirakan memiliki cadangan sekitar 38 hari.
Selain memastikan ketersediaan BBM, pemerintah juga memantau pasokan LPG nasional. Meski rantai pasok global sedang mengalami dinamika, distribusi LPG di Indonesia disebut masih terjaga dengan baik.
Bahlil menjelaskan bahwa sekitar 70–72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya dari beberapa negara lain. Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, pemerintah menyiapkan langkah diversifikasi impor.
Salah satu langkah tersebut adalah menambah sumber pasokan dari Amerika Serikat serta negara lain seperti Australia. Bahkan dalam waktu dekat, Indonesia dijadwalkan menerima dua kargo LPG tambahan dari Australia.
Di sisi lain, pasokan solar nasional relatif lebih stabil karena seluruh produksinya berasal dari dalam negeri. Kondisi ini semakin diperkuat dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sejak Januari 2026 yang meningkatkan kapasitas kilang nasional.
Proyek tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bensin hingga sekitar 5,5 juta ton per tahun dan menekan impor solar sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Pemerintah juga terus mendorong pembangunan kilang baru guna meningkatkan produksi BBM dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Bahlil menambahkan, jika produksi minyak nasional belum mencapai target sekitar 1,6 juta barel per hari, maka kekurangan antara kebutuhan dan produksi domestik masih harus dipenuhi melalui impor minyak mentah.













